RSS

memories of neighborhood


Hidup hanyalah sederhana, sesederhana kita menjalaninya dengan tangis dan tawa. Sesederhana saat setiap hari kamu selalu datang ke rumahku dengan tumpukan buku-buku PR-mu, merengek-rengek padaku agar membantumu mengerjakannya. Sesederhana saat kamu bilang kamu menyukaiku lalu kusambut dengan kata tidak. Sesederhana persahabatan kita yang kadang bertengkar, baikan, bertengkar lagi dan baikan lagi tanpa pernah tau apa yang selalu kita ributkan.

Hidup kita mengalir seperti air. Atau, berputar seperti roda. Banyak hal yang berubah, orang-orang datang dan pergi, hati manusia berganti seiring waktu yang makin jauh berlari, tapi tidak untuk sebuah tempat yang kusisakan untukmu, sebuah tempat yang juga kau sisakan untukku, tempat kecil nan damai bernama persahabatan. 

Ah.. salahkah kubilang ini rindu? Rindu akan masa-masa muda yang gila. Rindu menunggumu datang menjemput lalu berangkat mengaji naik becak, rindu membaca komik bersamamu di teras rumahku, rindu berpapasan denganmu di kodim lalu berangkat sekolah bersama, rindu empat kali sehari kamu datang ke rumahku untuk bercerita tentang pacar-pacarmu, tentang papamu, tentang kejadian-kejadian di kelasmu. Rindu pada kebosanan membuka pintu ruang tamu hanya untuk mendapati muka jelekmu lagi dan lagi. Rindu saat kita marahan hanya gara-gara sebuah mangga. Rindu mengurusi persoalan remeh-temeh Ahmad Amahoru waktu lagi kasmaran setengah hidup sama Tika Tuasikal. Rindu saat-saat kita belom pake henpon, petantang-petenteng dari protokol ke wartel ini-itu buat telpon-telponin orang gak dikenal. rindu naik skuter sama-sama, rindu malam-malam waktu kamu dateng ke rumah bareng Ahmad buat latihan vokal lagu You Raise Me Up, rindu julukan-julukan aneh yang sering kamu tuliskan di papan tulis ruang agama untuk membuatku malu (salah satunya: Elvira = Ratu Buaya Putih). Rindu makan pisang goreng, Rindu jalan-jalan bareng, Rindu kamu yang selalu memanggilku ‘tikus’. Rindu kamu yang bawel,  rindu kamu yang selalu ada di pihakku apapun yang terjadi, rindu kamu yang selalu membelaku bagaimanapun orang-orang membenciku, rindu nasehat-nasehatmu padaku saat lagi patah hati, rindu leluconmu, rindu pada semua rasa rindu ini..

Hingga kini kamu masih tetap sama, masih pandai melucu, masih pandai menggombal, masih jago membuatku tertawa, masih punya seribu kata untuk membuatku merasa cantik, masih tetap baik dan perhatian, masih setia kawan. Dan untuk semua itu aku bersyukur pada Tuhan telah mempertemukanku denganmu, laki-laki paling lucu yang pernah kukenal, sahabat sekaligus tetangga terbaik yang pernah ada. Terimakasih untuk suatu malam ketika kamu datang ke rumahku untuk pura-pura meminjam buku, karena sejak itulah persahabatan yang aneh ini memulai jalan ceritanya. 






Terimakasih untuk kebersamaan yang manis ini :)

Mar’ie Muhammad Fahmi Latuconsina.. :D

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

0 comments:

Post a Comment