RSS

Hidup setelah Menikah



Gak banyak yang berubah sih setelah berganti status menjadi istri. Banyak yang suka nanya gimana rasanya setelah menikah? Saya pribadi bakal jawab kalo rasanya sama-sama aja kaya sebelum nikah. Apa mungkin karena sekarang kita masih LDRan ya? Entahlah. Saya ngerasa masih asik-asik aja kaya yang dulu. Yang tambah asik sih karena sekarang dapet transferan duit jajan tiap bulan. Cihuy kan?

Temen-temen saya suka bilang kalo awalnya mereka mikir saya bakalan berubah. Bakalan jadi gak seseru dulu lagi. Apa-apa serba terbatas. Dikit-dikit suami ngelarang. Eh gak taunya, semua terbantahkan. Saya bersyukur sih dapet suami yang super seru, yang diajak ngapain aja hayuk. Trus gak pernah ngelarang saya gimana-gimana, mau deket dan gaul sama temen-temen saya. Dan satu lagi, gak pernah marah kalo saya jailin. Hahaha. Asli ya, saya super iseng dan parah kalo jailin orang. Setelah itu kita bales-balesan sampe capek sendiri. Sampe pasti ada salah satu yg jadi korban. Udah gitu baru deh minta-minta maaf. Tapi besoknya diulangin lagi. Gitu aja terus.

Kaya semalem nih, kebetulan Ichi lagi tugas di ambon jadi kita nginep di hotel. Kita berdua bobo-boboan sambil usil-usilan. Saya sih yang mulai duluan seperti biasa. Abis itu makin ganas jadi perang-perangan, kitik-kitikan sampe akhirnya ichi jatoh dari tempat tidur wuahahaha. Yang ini beneran ngakak saya gak tau gimana ceritanya kita saling dorong sampe akhirnya BUFFFFF. Dia jatuh begitu saja. Akhirnya saya minta maaf deh.

Kalo dipikir-pikir kita itu udah nikah tapi gada serius-seriusnya sama sekali. Awalnya saya mikir kalo nikah tu pasti bakalan suram. Kaya temen-temen saya yang lain, tunduk patuh sama suami sudah kaya sama atasan. Ternyata itu gak berlaku di saya. Thank God lah ya saya menikah dengan orang yang tepat buat mengimbangi kegilaan saya. Semoga seterusnya kita ketawa-ketawa aja kaya gini. Aamiin..




  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Hard for Him to Let Me Go

Pagi itu, tanggal tiga di bulan lalu, adalah hari dmn saya melihat papa menangis utk kali pertama. Saya tak menyangka, sebuah adegan ijab qabul yg hanyalah percobaan semata bisa membuat lelaki senja itu tersedu sedan. Kata2nya tak sanggup beliau lanjutkan, suaranya bergetar, lalu genangan air di sudut matanya tumpah ruah. Beliau terkulai menyandarkan kepalanya pada sandaran sofa. Lalu saya, yg menyaksikan semua kejadian itu dari jarak 5 meter, kebingungan menata hati dan perasaan.


Saya terseret dlm sebuah lingkar kesedihan yg tak dapat saya mengerti. Pdhl sdh sejak semalam saya melatih diri utk tdk gampang tersentuh oleh hal2 sentimentil. Maklumlah, makeup mahal saya yg dibayar cicil ini bisa luntur. Saya pikir saya akan baik2 saja, namun rupanya saya salah. Seluruh adegan wanita kuat yg saya reka di dlm kepala akhirnya menguap dibawa angin AC.


Airmata papa, airmata lelaki yg sering mengantar saya ke sekolah dulu dgn motor win tua, telah seratus persen menghancurkan gravitasi saya. Saya terisak dlm perasaan paling ganjil yg belum pernah saya rasakan sebelumnya. Dada saya seperti akan meledak, dan saya tersadar bahwa rasa sayang papa kepada saya jauh melebihi apa yg dpt saya kira2 selama ini. Dan barangkali itulah salah satu hari terberat dlm hidup papa, hari ketika beliau mempercayakan seorang lelaki utk mengisi kehidupan putrinya.

Saya lalu terkenang akan hari2 tua dulu ketika beliau mengikat tali sepatu saya, ketika beliau mengeringkan rambut saya sehabis keramas, atau bagaimana ekspresi beliau ketika saya mendapat ranking di sekolah. Ekspresi seorang ayah yg bangga namun tidak pernah mau tersenyum. Seorang ayah plg misterius di seluruh dunia, ayah yg tak pernah dpt saya selami isi hatinya.

Papa.. Papa selalulah mnjd cerita yg tak mengenal tamat. Tak peduli sdh sebanyak apa saya menggambarkan beliau dlm kata2. Rasanya tak pernah cukup. Tak pernah sedikitpun

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Miawww

Saya menikmati kesedihan dan mendramatisasinya dengan menyetel lagu2 sendu. Saya curiga, saya jatuh cinta pada kesedihan itu sendiri. Pada airmata yg ia bawa, pada buncahan perasaan sesak yg membikin dada seperti akan meledak..

Seperti sore ini.. Have you ever been in love menggema ke seisi kamar. Saya memutarnya berulang2, tak peduli Shane Filan barangkali sudah dongkol setengah mati karena kelelahan mengambil nada tinggi. Saya tak pernah tahu jika menggalau bisa demikian indahnya.

Mengenangkan kisah cinta yg pernah kandas, lingkaran pertemanan yg makin mengecil seiring bertambahnya angka2 usia, keluarga yg sedang tak harmonis, pekerjaan yg tak manusiawi, dan masa depan penuh misteri yg tak dapat saya kira2.. Saya ingin menangis, tapi tak bisa. Saya benci pada rasa kebal akan kepedihan.

Ah hidup.. Tak pernah saya sangka akan demikian berliku. Seandainya saya dapat menerka kemana arah takdir saya. Apa yg tertera dlm buku catatan Tuhan. Apa yg Dia rencanakan utk saya.

Wew. Saya jadi lapar..


  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Apa Mungkin


Apa mungkin jika kita masih bersama hingga detik ketika saya mengetikkan kalimat ini,  lantas kita masih sebahagia dahulu?

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Hello Again


Belakangan, hidup terkesan memberi kita banyak kesempatan untuk memaki. Entah pada tontonan televisi, pada pekerjaan kantor, pada cuaca yang labil, pada orang-orang norak dengan rantai DNA menyebalkan yang sayangnya masih hidup dan berkeliaran di muka bumi.

Di balik semua kenistaan itu, selalu ada kebaikan Tuhan yang masih bisa disyukuri. Bersyukur karena masih bisa gajian di tanggal satu. Bersyukur atas para sahabat yang sudah seperti saudara. Bersyukur atas kesehatan, atas oksigen gratis yang kita hirup tanpa perlu berlelah-lelah membelinya di toko bahan kimia.

2018 akan sangat melelahkan tentu saja. Menguras emosi, menguji kesabaran, mengaduk perasaan. Semoga Tuhan berkenan memberikan banyak rejeki, kekuatan dan kemudahan.

Selamat melanjutkan hidup dan menyambut banyak kejutan..



  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Menangisi Kemiskinan Negeri


Saya sering takjub pada bagaimana cara pendidikan mengubah kehidupan seseorang, membebaskannya dari kutukan kebodohan akut dan mengantarkan pada ruang bersinarkan ilmu pengetahuan dan kebijaksanaan. Adalah ironi kemudian, melihat anak2 seumuran keponakan saya hidup tak tentu arah, tak tersentuh pendidikan entah karena malas memeras otak, atau karena bangku sekolah memanglah barang mewah yg tak terjangkau dompet para orangtua.

Banyak kegamangan yg saya saksikan selama dua bulan penuh berjibaku di lapangan. Meninggalkan rutinitas kantor dan pekerjaan monoton di atas meja, lalu terjun langsung melihat betapa di pedalaman Maluku, Indonesia belumlah sepenuhnya merdeka.

Kisah pilu kehidupan para wanita tercatat rapi dalam tabel2 kuesioner kuning. Miris melihat di rumah sereyot itu mereka membesarkan anak berderet2. Ada yg lahir lalu meninggal, lahir lagi dan meninggal lagi, hingga tiga-empat kali. Beberapa wanita menanti lebih dari satu dekade, memimpikan seorang anak yg tak kunjung hadir melengkapi kehangatan rumah tangga. Beberapa dgn lantang menolak ber-KB, memproduksi anak dalam jumlah banyak lalu tercekik sendiri oleh kesulitan memberi nafkah dan penghidupan yg layak. Ujung2nya? Memaki pemerintah karena bantuan duit tak kunjung tiba. Siapa yg salah?




Setiap malam sebelum memejamkan mata, di atas kasur tipis yg dipakai utk tidur berhimpit2an di rumah warga desa macam ikan asin, ketika hawa dingin menyergap, saya disergap pula oleh satu perasaan bersalah tentang apa saja yg telah saya baktikan pada tanah ini. Maluku, kampung halaman saya, tanah yg menghidupi saya, tangis dan tawa yg menggenapi perjalanan hidup saya. Sungguh saya benci melihat kemiskinan yg diwariskan turun temurun di pedalaman negeri ini, sama halnya seperti saya benci melihat anak2 usia SD yg belum terakses oleh pendidikan bermutu. Saya bisa apa?

Pemda bolehlah bicara soal kekayaan alam berlimpah2. Tentang laut yg ikannya ramah menari2 minta dijaring. Tentang bagaimana mgkn kita selalu memegang piala berukirkan kata2 manis sebagai provinsi termiskin, sedang benih2 kelimpahan sumber daya alam tersebar di sepanjang tanah yg kita pijaki. Barangkali statistik telah salah mengukir grafik2. Barangkali orang2 yg bekerja di kantor dua lantai itu telah mengetik angka2 sambil menguap lebar hingga membuat kesalahan fatal. Tak tahulah saya mengapa bisa begitu. Tapi mari tuan tengoklah dulu nun di situ, di desa Wolu, dusun Masihulan, desa Elnusa, Pulau Kiltai dan Kilwaru, Pulau Geser, Desa dawang yg jaraknya hanya sepelemparan batu dari ibukota kabupaten Seram Bagian Timur. Laut ada di mana2, ikan dan cumi tak pernah susah dicari, namun intiplah ke meja2 makan mereka, apakah ada lauk di sana? Apakah mereka menerapkan empat sehat lima sempurna dalam pola makan mereka? Biarlah saya jawab sepenuh hati: tidak sama sekali.

Pada akhirnya, saya hanya bisa meracau dan mengutuk2 tanpa tahu apa yg harus lebih dulu saya benahi. Manalah mungkin saya yg kurus ceking dan seorang staf abal2 di kantor pemerintah ini bisa mengubah kehidupan orang banyak? Saya hanyalah setitik debu di kaca spion motor. Tak terdeteksi. Maka besar harapan agar seseorang turun dr langit lalu mengubah tatanan ganjil ini, hingga tak perlu lagi ada tikus yang mati di dalam lumbung padi. Semoga saja.


  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Berlayar ke Pulau


Jam tangan analog saya bergerak menunjukkan pukul setengah delapan mlm. Ombak bergulung semaunya, langit gelap tanpa petunjuk, sementara perut menjerit minta diisi. Saya hanya membatin memohon perlindungan-Nya. Seandainya saya harus mati, saya cuma ingin mati di atas tempat tidur.

Maka naiklah saya ke atas longboat dengan pikiran tak menentu. Laut sungguhlah penuh amuk. Perjalanan setengah jam dari dusun Mar menuju pulau Geser serasa panjang tak berujung. Di saat2 sulit begini, di musim seperti ini, di tengah putaran arus dan gelombang laut yang membabi-buta dan membuat penumpang basah kuyup, sulit untuk tak mengingat dosa2 dan mengemis belas kasih Tuhan.

Alhamdulillah, saya masih hidup. Dan kini saya percaya hanya orang2 kuatlah yang Tuhan pilih untuk menempuh perjalanan2 sulit lagi berbahaya. Tidakkah saya sebegitu beruntungnya? Diutus negara ke pulau2 terpencil untuk belajar secara langsung tentang makna rasa syukur. Jauh menembus sanubari terdalam saya, memecah keangkuhan diri dan merobohkan sifat2 materialistik. Betapa selama ini saya terlalu sibuk dengan diri sendiri.

Sore ini dalam lalu lalang pengemudi kendaraan yang takut kena razia polantas, saya menyantap sepotong pizza abal2 dari kafe kecil di sebuah kabupaten terbelakang sembari terkenang akan senyum anak2 pesisir yg bau matahari. Saya rindu mereka, atau mungkin hanya sekedar rindu pada kehidupan sederhana yang dengan lapang dada dapat mereka terima seperti mereka menerima ibu2 kandung mereka. Tak peduli bahwa kemiskinan adl hal yg mereka bawa sejak dari dlm rahim. Tak peduli se-cupu apa sistem pendidikan di dusun tempat mereka tinggal. Saya melihat kebahagiaan berlipat2 dari sinar mata anak2 ini, dari renyah tawa yg memperlihatkan deretan karies di gigi susu mereka. Bocah2 ini menerima kesulitan dgn setinggi2nya keikhlasan. Sebuah penerimaan dan kebesaran hati yang ingin sekali saya curi.

Selepas melaksanakan tugas mulia nan menyebalkan ini, saya merasa kulit yg gosong, wajah yg berjerawat, mie instan yg dimakan tiga kali sehari, mandi dan menggosok gigi di air payau ataupun hidup berpindah2 dgn menumpang di rumah2 warga desa bukanlah apa2 dibanding pelajaran moral yg saya dapatkan. Sungguh bukan dusta. Saya bangga bisa menang melawan keterbatasan diri. Saya bangga menjadi elvira yg lebih pemberani, penuh empati, memahami orang lain, tidak cepat mengeluh dan mampu menekan ego. Saya beruntung dan bersyukur telah dipilih Tuhan utk merasakan bermacam2 pengalaman. Saya merasa begitu kaya. Alhamdulillah. Alhamdulillah. Alhamdulillah. Tuhan tak pernah salah dalam mencurahkan berkat. Terima kasih ya Allah, untuk bulan Agustus yg mendebarkan, penuh tantangan sekaligus sarat akan hikmah dan pembelajaran.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS