RSS

pisanga gorenga

saya masih terjaga, masih berpikir ini dan itu dan masih merindukan pisang goreng.
ya, pisang goreng. sudah jam 2 pagi (so?) dan saya tiba-tiba begitu rindu dengan pisang goreng khas rumah saya. tak ada tandingannya di belahan dunia manapun. titik!!!


ah, maaak.. tak sabar menunggu agustus untuk segera pulang ke kota halaman tercinta. hiks hiks..

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

morning dews

Sudah larut, tapi mata saya selalu seperti ini. sulit terpejam! dan seperti malam-malam yang sudah-sudah, saya berkeliaran tak jelas mengitari kamar kos sempit ini. dari ranjang, pindah ke toilet, pindah ke meja belajar, pindah ke depan cermin (saya jelek sekali malam ini :p). dan daripada mengurusi insomnia saya yang tak pernah sembuh ini, lebih baik saya bercerita tentang embun.

sudah dalam hitungan tahun lamanya saya tak saling bertegur sapa dengannya. saya rindu, saya rindu embun yang selalu bertengger manis di rerumputan, di pucuk-pucuk daun segala jenis tanaman yang mama tanam di pekarangan rumah. embun yang ramah, senyumnya selalu dia tebarkan pada saya di setiap pagi, mengiringi perjalanan lima belas menit saya menuju sekolah dengan berjalan kaki.

saya mencintai pagi selayaknya saya mencintai kehidupan masa SMA saya. percaya atau tidak, saya selalu merindukan hari untuk cepat berganti. untuk mengenakan seragam putih abu-abu lagi, untuk dihukum lagi jika telat datang, untuk tugas piket yang menyebalkan, untuk belajar matematika lagi, dan untuk melihat seseorang yang saya sukai..

pagi selalu sepaket dengan embun, karena setiap kali melangkahkan kaki keluar dari gerbang, embun akan membasuh sepatu saya seperti dengan cara magis dan membuatnya terlihat lebih bersih dari hari sebelumnya. ah, baik sekali embun itu.


pagi dan embun telah bersekongkol untuk meluluhkan hati saya, untuk membuat saya tak punya alasan untuk tidak bersyukur kepada-Nya atas kehidupan yang indah ini, atas segala kesempurnaan yang dianugerahkan-Nya kepada saya. Ah, betapa beruntungnya karena saya punya Tuhan yang begitu pemurah.

dan kembali lagi soal embun, saya tahu kehadirannya di suatu pagi sungguh amatlah singkat. tak lama setelah dia membasuh ujung sepatu saya yang kotor, matahari akan menguapkannya ke udara dan dalam waktu sesingkat itulah dia pergi tanpa bilang permisi. tapi tak mengapa, saya percaya selama saya masih punya harapan untuk hidup di esok hari, dan selama rumput dan dedaunan masih terhias di halaman rumah saya, berarti saya selalu dan akan selalu berjumpa dengannya *sotoy*

kasihpun mulai deras mengalir

cemerlang sebening embun..
(Ebiet G Ade)


geje sekali kau elvira kiat.. hahhahaaha *tertawa-tawa sambil ngemil paku payung*

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

ceritaceritu

Postingan kali ini pake “lw-gw” aja yaaa..

Gw gak tau kenapa ada aermata yang jatoh ketika lw melangkah keluar kosan. Gw seperti merasa ditinggalin, ditinggalin untuk yang kedua kalinya sama orang yang gw sayangin. Gw ngerasain hal yang sama saat dulu lw ninggalin gw disini, seorang diri. Rha, dulu lw bilang kita harus berjuang sama-sama. Tapi lw malah ninggalin gw. Gw ngerasa timpang saat lw gak ada. Gw ngerasa gak bisa nyeritain banyak hal ke orang laen seperti halnya yang gw lakuin kalo ada lw, rha..

Perasaan kehilangan ini bikin aermata gw gak berenti-berenti netes. Rasanya baru tadi sore gw ktawa-ktawa saat lw maen ke kamar gw. Ngobrol banyak hal yang udah berubah semenjak lw ninggalin Jakarta. Sejujurnya gw masih pengen lw disini, gw masih pengen ngeliat lw, masih pengen dengerin cerita-cerita narsis dari mulut bawel lw. Kalo ada yang harus gw salahin, itu hanyalah soal waktu. Waktu begitu cepat ngerebut lw dari gw, ngerebut hari-hari manis kita. Gak bakalan gw lupain saat-saat belajar bareng lw sampe jaoh malem, saat-saat kita ngerasa kenapa kita begitu lemot mempelajari itungan-itungan statistik,, apapun itu, segala hal tentang lw bikin gw kangen, rha.. dan entah kenapa rasa kangen itu bikin gw masih terus aja nangis..

Rha, maafin gw karena sejak hari pertama lw datang ke sini sikap gw terus-terusan dingin. Gw hanya gak tau bagaimana gw mesti bersikap. Tapi jujur dari dalem hati gw, gw bahagia ngeliat lw yang sekarang. Lw yang aktif di organisasi, lw yang berprestasi di kampus lw yang baru, semua itu bikin gw bangga mengenal lw. Lw bener, sekali gagal gak berarti apa-apa. Itu jadi batu pijakan buat jadi lebih baik lagi ke depannya, buat buktiin ke dunia kalo lw bisa lebih sukses dan berkembang walopun lw harus keluar dari STIS. 

Terus berlari, Rha. Lw masih muda, banyak hal yang masih bisa lw capai. Berbuat yang terbaik di tiap titik yang kita singgahi dalam hidup, itu yang selalu gw inget. Makasih ya Rha, untuk semua motivasi lw ke gw, untuk semua kata-kata bijak lw yang nguatin langkah gw, yang bikin gw ngeyakinin hati gw untuk memilih tetap bertahan di kampus ini, apapun yang terjadi. Makasih, Rha.. karena rasa sayang gw yang besar buat lw, gw memilih untuk ngapusin aermata gw n berdoa, semoga lw sukses dalam segala hal yang ingin lw capai :’)

Buat kawan seperjuanganku, Andira Arnita Anis.
I’ll be missing you so much..

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Hujan, Hujan!

saya mulai jenuh mengerjakan tugas kuliah, mari rehat sejenak karena saya ingin menulis. menulis apa? menulis tentang hujan. kenapa pula harus tentang hujan? karena malam ini hujan, dan cuma hujan yang terlintas di kepala saya :p

sesuatu yang sudah tidak asing lagi dari keseharian saya, berpindah dari 1 bus transJkt ke bus transJkt lainnya, dari warna yang ini ke warna yang itu, dari shelter yang sana ke shelter yang sini. yah, singkatnya saya sudah sangat akrab dengan kendaraan ini. ada sensasi aneh yang saya pikir bakal saya rindukan suatu saat nanti, untuk bus jurusan tertentu yang saya tunggui bermenit-menit lamanya, untuk berebutan tempat duduk dengan penumpang lain, untuk hati-hati dalam melangkah saat keluar dari bus, untuk memberi tempat duduk kepada ibu-ibu tua maupun ibu-ibu yang membawa bayi, untuk berdesak-desakan dalam bus ketika sudah tidak ada lagi tempat duduk yang tersisa, untuk lengan kokoh seorang pria penyayang yang selalu disodorkan kepada saya untuk menjadi pegangan ketika saya tidak bisa menjaga keseimbangan saat bus mengerem. begitulah, bus transJkt selalu punya romantika tersendiri, tidak terkecuali saat seseorang menyatakan perasaan sukanya kepada saya di dalam bus TrasJkt ini pula (ah, nostalgia deh).

sama halnya dengan romantika di bus, maka hujan pun punya romantika tersendiri, sensasi yang selalu membuat saya merasa hati saya dipenuhi kehangatan berlimpah-limpah. seperti yang dalam ajaran agama saya bilang, hujan itu berkah, berkah dari langit, karunia Tuhan. maka inilah yang terjadi sepanjang perjalanan pulang saya dari Atrium, berdiri dalam bus dan memandangi hujan yang menghantam badan jalan. saya cinta pada cara titik-titik air hujan yang jatuh ke bumi, saya cinta pada irama hujan yang seperti nyanyian dewa langit, saya cinta pada bau hujan yang khas, yang tak pernah berubah belasan tahun sejak saya lahir.

sudah sejak lama saya mencintai kegiatan seperti ini: memandangi hujan. sejak masa saya masih SD dulu setiap kali hujan turun, saya akan duduk manis di bawah jendela ruang tamu yang menghadap langsung ke jalan raya, melihat pohon-pohon yang basah kuyup seperti diserang tentara-tentara hujan dari langit, melihat anak-anak berlarian mengumbar tawa menikmati curahan air dingin dari atas sana, karena semakin deras air yang ditumpahkan, maka semakin giranglah mereka. saya pun sesekali menikmati hal serupa, menikmati sensasi mandi hujan bersama beberapa teman sebaya saat masih kanak-kanak. berlarian dan tertawa-tawa seperti orang sakit gila. tapi saya tidak peduli. perasaan senang yang saya peroleh sulit digambarkan, bahkan sekalipun saya harus dimarahi orang tua, itu tidak seberapa dengan kebahagiaan yang ditawarkan oleh hujan. menyenangkan!

maka malam ini, hujan seperti sengaja datang pada saya dalam wujud lorong waktu. ia seperti tengah memutar video klasik dimana saya yang jadi aktris utamanya. saya melihat diri saya bersama sang hujan dalam latar yang berbeda-beda. kenangan ketika di suatu sore sepulang latihan Porkab saya dihampiri oleh seorang yang *sensor*, kenangan ketika saya dan teman-teman nekat menerobos hujan sepulang les dan bermain bola di jalanan, kenangan ketika seorang kakak kelas (yang naksir saya dan berkali-kali saya tolak) menyanyikan lagu "haruskah kumati karenamu" dari balkon lantai dua ketika saya lewat memakai payung di tengah lapangan, kenangan ketika di suatu malam motor saya mogok dan saya basah kuyup diguyur hujan, kenangan saat pulang bernyanyi dari rumah guru kesenian saya, kenangan akan kebersamaan dengan kawan-kawan yang setia..

banyak yang disuguhkan hujan kepada saya dan tak pernah bisa saya tolak. dalam keadaan seperti apapun, entah gerimis, entah hujan deras, entah hujan angin, entah hujan disertai petir sambar menyambar, saya percaya selama matahari masih ada maka hujan akan mendatangkan pelangi selepas kepergiannya. ya, khusus untuk saya..

jadi apa yang perlu saya takuti? Tuhan itu Maha Baik. hujan, matahari, pelangi, siang, malam, gelap, terang, semuanya saling melengkapi, semuanya datang silih berganti, semuanya membuat rasa syukur saya tidak pernah terhenti. demikian halnya dalam hidup, susah senang, sedih bahagia, itu manusiawi. saya tidak ingin menggerutu terhadap apapun (semoga), saya ingin mencintai hidup saya, mencintai dengan setulus-tulusnya karena itu yang sudah Tuhan berikan kepada saya. mutlak harus saya hargai :)

Aku selalu bahagia saat hujan turun karena aku dapat mengenangmu untukku sendiri..

lalalalala, elviramelantikiat lagi ngelantur :p

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Saya dan Si Sepi

saya mencoba merenungi apa yang belakangan ini terjadi, sesuatu yang cukup menguras pikiran saya, menguras hati saya, merenggut senyum ceria saya beberapa hari ini. saya sudah terlalu sering dikhianati, karena itu saya tidak ingin cengeng. saya mencoba membenah diri dan mengkaji apa yang sebenarnya saya cari. saya memutuskan untuk tidak pergi, atau lebih tepatnya, tidak lari dari semua ini. dimanapun dan kemanapun saya pergi, saya sadar saya tidak akan pernah menemukan tempat yang paling nyaman di dunia ini, karena kenyamanan tidak akan pernah bisa dicari. ia ada di dalam diri saya sendiri. kenyamanan itu saya yang menciptakannya.

ya, saya memilih untuk merasa nyaman di sini, di tengah-tengah keasingan ini, diantara percakapan sunyi dan malam yang selalu saya simak dalam ribuan bahasa. saya tak perlu lari, tak perlu menyingkir, tak perlu menghindar. saya adalah saya. hey, bukan! saya tidak sedang terkurung dalam kesendirian. saya sedang merasakannya, menikmati setiap hembusannya, karena rupanya sendiri itu nikmat. maka saya mencoba bersahabat akrab dengannya. karena lagi-lagi yang saya tahu (heh?), kesunyian takkan mungkin mengkhianati saya. kapanpun saya mau saya bisa meninggalkannya, tapi sungguh saya masih ingin berlama-lama duduk berdampingan dengannya. sendiri, sunyi, hening, senyap, atau bagaimanapun orang menyebutnya, saya perkenalkan, dia sahabat karib saya :)


//elvira yg lagi sarap setelah insiden hilangnya kaen batik mahel >,<//

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

I wanna Grow Old with You

sebelum dibaca ada baiknya siapkan ember dan tisu kalo-kalo ada yang muntah gituh. hi hi hi hi.. dasar abegeh korban sinetron religi ya! muahahahaha



Mungkinkah kita msh akan menatap langit yang sama setelah mendung kita?
Berbicara tentang hari muda kita yang gila.
Tentang pohon2 tua yang pernah meneduhi kita.
Tentang gerimis di suatu senja yang pernah membuatku menangis.
Akankah kita masih saling menatap mesra dan berpegangan tangan?
Duduk di teras sembari menikmati malam.
Tertawa melihat bocah2 kita yang lucu.
Akankah kau masih memelukku saat angin dingin berembus?
Atau kau mungkin mulai tak lagi merasaku?
Hidupku, hidupmu.. akankah menyatu?
Atau ini justru hanya bumbu pelengkap dalam perjalanan panjang kita.
Apakah kan kita habiskan hari tua kita bersama?
Memetik mangga2 di pekarangan rumah.
Merawat bunga2 kita yang indah.
Apakah kita masih akan mendaki gunung2 yang kita rindukan?
Berenang dan membangun istana pasir di laut yang kita cintai?
Takdirku, takdirmu.. tak ada yang bisa membacanya.
Hanya mampu menuliskannya dalam buku catatan ketika semua akhirnya telah berlalu.
Aku ingin..
Aku ingin membangun hari tua denganmu..
Menyiapkan makan siang untukmu.
Memijit bahu dan punggungmu ketika kau kelelahan.
Aku ingin mengencangkan dasimu ketika kau berangkat kerja,
Lalu kerepotan mengurus bayi kita ketika kau sedang tak ada.
Aku ingin bersantai sambil menonton acara tivi kesukaan kita lalu terlelap manja di pahamu.
Aku ingin mencium tanganmu selepas kita shalat berjamaah, lalu bersama mengajari anak2 kita membaca Alquran.
Aku hanya ingin kau yang menghapus airmataku ketika aku bersedih.
Melindungiku ketika aku didera ketakutan.
Tapi bisakah?
Akankah kita tumbuh tua bersama?
Akankah hanya aku yang menjadi satu2nya wanitamu?
Hingga rambut kita memutih,
Hingga kaki kita mulai melemah,
Hingga ajalku dan ajalmu datang menjemput.
Aku ingin, hanya dan hanya ingin menjadi wanita yang tertakdirkan untukmu.
Lalu kelak kita akan berbincang tentang masa muda kita sebelum beranjak tidur.
Tentang pertemuan kita yang berkesan, tentang pencapaian2 yang dulu kita idamkan.
Apakah kita akan menghabiskan hari tua bersama? Dan bisakah?
Tak ada yang tahu..
Kau dan Aku..

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Mama, Ibuku

Ma, aku ingin menulis tentangmu. Bukan puisi, bukan kata-kata indah yang akan kurangkai, tapi hanya sepotong kerinduan yang ingin kutuang, daripada kubiarkan ia menguap dibawa angin. Aku tahu pasti kau takkan pernah mungkin membacanya, dan kalaupun ia terbaca olehmu, semoga kau mengerti bahwa aku merindukanmu dalam tiap sepi yang menderaku. Aku tak ingin menangis, hanya saja airmata ini selalu meluncur deras setiap kali kuingat akan dirimu, akan nasehat-nasehatmu, akan tatapanmu yang mengandung begitu banyak arti dan tak pernah bisa kujamah.

Ma, dulu saat masih kanak-kanak, aku selalu ingin menjadi cepat dewasa. Selalu kutanyakan kapan aku menjadi besar dan tinggi.. tapi kini, di tengah proses kedewasaanku, aku justru ingin kembali ke masa kanak-kanakku. Kupikir orang dewasa bisa melakukan segalanya, tapi ternyata menjadi dewasa bukanlah hal yang menyenangkan seperti yang dulu kupikirkan. Satu yang pasti dari kenyataan menjadi orang dewasa adalah, aku harus bisa bertanggung jawab untuk menjaga diriku sendiri. Rasanya sungguh tak mengenakkan. Aku jadi terpikir bagaimana dulu engkau menjaga kami bertujuh, mengkhawatirkan kami, apakah itu terasa berat bagimu, ma?

Ma, waktu semakin berjalan ya.. rasanya aku masih ingin berlama-lama di dekatmu. Aku rindu hari ulangtahunku yang selalu dibuatkan nasi kuning olehmu. Tak pernah ada kado, tak pernah ada perayaan tiup lilin, tapi bagiku nasi kuning yang kau buatkan jauh lebih berarti dari itu. Ma, maafkan aku yang belum bisa memberikan apa-apa untukmu, belum bisa menjadi sesuatu meski kau tak pernah meminta sesuatu dariku. Begitu banyak yang sudah kau berikan, dan aku hanya bisa berdoa semoga masih ada kesempatan bagiku untuk memberikan seperseribu saja dari yang pernah kau berikan padaku sebelum akhirnya Tuhan akan memanggilmu.

Ma, mama semakin menua. Setahun sekali berjumpa denganmu, yang kulihat berubah hanyalah rambutmu yang semakin banyak memutih. Dan tulang-tulangmu kini semakin menonjol karena kau semakin kurus. Selebihnya, perhatian dan kasih sayangmu tak pernah berubah, kau masih saja bertanya besok aku ingin dibuatkan masakan apa.. ma, kenapa kau selalu baik padaku? lalu dengan apa aku harus membalas semua kebaikanmu? Kau masih saja meminta maaf jika kiriman uang kos darimu datang terlambat. Padahal harusnya aku yang meminta maaf karena masih saja menjadi beban bagimu. Kau menyesal karena tak bisa ada di sini ketika aku tengah bersedih, padahal aku sendiri tak pernah tahu kapan hatimu sedang diliputi kesedihan.. terbuat dari apa hatimu ma? Kenapa engkau tak pernah marah, tak pernah menyalahkanku jika aku gagal dan membuatmu kecewa? Kenapa kau masih mampu berkata dengan nada lembut sambil mendoakanku ma?

Ma, aku rindu.. di sini begitu kosong tanpamu.. aku ingin membahagiakanmu. Aku ingin cepat-cepat lulus dari sini dan melihatmu tersenyum di hari wisudaku. Semoga engkau bangga padaku selayaknya aku yang selalu bangga memiliki ibu sepertimu ma. Jika manusia di dunia ini akan terlahir kembali, aku hanya ingin terlahir dari rahimmu, menjadi anak keenammu yang kau beri nama Elvira. Aku tak ingin menjadi orang paling hebat, cukuplah dengan menjadi anakmu saja ma. Ma, Aku mencintaimu. Aku mencintaimu karena Allah. Maafkan aku yang tak pernah mengucapkan kalimat itu secara langsung di hadapanmu.

Ma, bagaimana kabar mama? Di saat jauh dari mama, aku selalu ingat mama. Dulu sewaktu kecil setiap kali pulang sekolah, seperti sebuah keharusan bagiku untuk mencarimu di dapur, melihatmu memasak atau berkutat dengan adonan-adonan kuemu. Barulah aku merasa senang dan segera mengganti baju. Kalau tak melihatmu di dapur, aku pasti akan mencarimu di tiap sudut rumah. Aku tak punya alasan mengapa hal itu selalu kulakukan, tapi ada kelegaan bagiku setiap kali aku melihatmu. Seringkali aku rindu setiap sore yang kau habiskan untuk mencabuti rumput, menyirami bunga-bunga yang kau sayangi, tersenyum pada cabe, tomat, serai dan daun-daun kemangi yang tumbuh lebat di halaman samping rumah kita. Aku hanya duduk di teras sambil memandangimu, merasakan betapa kau teramat mencintai hidupmu yang sebenarnya sudah cukup berat ini.

Beberapa minggu lalu aku mengirimkan cardigan untukmu. Kau menelpon dan berkata bahwa kau menyukai apa yang aku berikan. Kau senang karena cardigannya terlihat bagus di badanmu. Tahukah engkau ma, aku jauh lebih senang karena hal kecil seperti itu mampu membuatmu gembira..  syukurlah karena aku masih bisa memberikan sedikit arti bagimu ma..

Ma,saat kemarin aku pulang, kau bercerita padaku perihal bekas operasi di kakimu yang masih terasa sakit. Bahkan kini ada daging yang mencuat keluar dan membuatmu menahan kesakitan ketika berjalan. Ma, tahukah kau bahwa aku ingin menangis melihat semua kesusahan yang kau tanggung..? tapi dengan itu kau masih bisa tersenyum, masih bersemangat membuatkan sarapan dan snack sore setiap hari untuk anak-anakmu. Aku hanya bisa menuangkan air hangat ke ember, membiarkanmu merendam kakimu  di situ sembari memijat bahu-bahumu yang kelelahan. semoga itu bisa mengurangi rasa sakit yang kau tahan selama ini. andai saja aku dokter ma, mungkin aku bisa menjadi lebih bermanfaat bagimu. Tapi di sini aku hanya belajar tentang statistik ma, tak ada yang kutahu tentang obat-obatan. Aku hanya berharap semoga Allah mengganti setiap derita yang kau tanggungkan dengan pahala berlipat ganda, dan semoga rasa sakitmu menghapus setiap kesalahanmu dan mempertemukanmu dengan surga-Nya.

Ma, maafkan aku yang setiap kali pulang, tak ada yang bisa kubawa selain hanya menambah beban dalam keranjang cucianmu. Dalam usiaku yang terbilang dewasa ini, seringkali aku masih saja mengeluh, mengadu hal-hal kecil padamu, merepotkanmu, menanyakan ini dan itu padamu. Aku sadar tak bisa terlepas darimu. Kau memang muara segala hal. Aku mencintaimu ma, walau itu tak pernah terucap. Sama halnya dengan engkau yang tak pernah mengucap kata cinta pada anak-anakmu, tapi aku tahu kau mencintai kami, ma. Lebih dari kata cinta itu sendiri.

Akhirnya, aku hanya bisa terpaku pada deretan kalimat-kalimat ini. terlalu banyak keindahanmu yang tak terjangkau oleh bahasa, terlalu banyak kasih sayangmu yang tak sanggup kuceritakan lewat kata-kata saja. Semuanya terlalu sesak dan tak akan muat dalam lembar-lembar kertas. Kelak jika nanti aku menjadi seorang ibu, aku hanya ingin dipanggil “mama”, persis seperti aku yang selalu memanggilmu mama..

I love u, Ma..

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS