Apa cm saya ya, yg pengen hidup gini2 aja. Gak punya target utk menjadi apa2, atau meraih apa2. Biarkan smua mengalir tanpa menaruh ekspektasi thdp apapun. Orang2 sibuk ingin mengubah dunia. Saya sibuk mengagumi dunia dan kehidupan. Mengamati langit malam. Menikmati tiap hembus angin yg menerpa wajah ketika duduk di atas sepeda motor. Memuja tatanan alam semesta. Saya ingin hidup begini saja adanya. Tanpa ambisi ini dan itu.
Jika saja impian dan keinginan memiliki wujud dan massa, lalu kemudian mereka kebal akan gravitasi, maka harapan setiap orang akan melayang2 di udara dan saling bertabrakan. Lalu saya, yg sama sekali tak ingin mencapai apa2 ini menjadi ngeri sendiri membayangkan semua itu.
Saya merasa hidup pada era atau dimensi yg berbeda dr orang kebanyakan. Karenanya saya suka menyendiri. Diam di tempat di mana saya duduk saat ini dan menyaksikan setiap orang bergerak dalam kecepatannya utk mengejar apa yg menurut mereka pantas utk dikejar. Lalu saya capek sendiri. Saya lelah hanya untuk sekedar melihat. Apalagi berusaha memahami jalan pikiran manusia. Mungkin saya naif. Bisa jadi bodoh. Atau mungkin otak saya sudah dimakan rayap.
Hehe. Saya tak pernah menyoal mengapa saya berbeda. Mengapa mereka begitu. Mengapa sepuluh tahun terakhir ini saya lupa meramu mimpi. Saya memilih hidup seperti ini saja. Dalam ekliptika yg saya bangun agar saya tak kecewa atau terluka. Karena saya tak ingin membuktikan apapun kepada siapapun.
Tidak Apa-apa
Baru Bisa Bersyukur Setelah Liat Orang Lain Susah
Malam ini, dalam remang lampu kafe di meja paling pojok, saya merenungi hidup. Banyak hal terjadi belakangan ini. Banyak hal membuat saya bukan lagi saya yg kemarin.
Biarkan secara random saya bercerita.
Beberapa hari lalu saya mengurus perpanjangan SIM. Singkatnya, ada masalah sehingga perpanjangan SIM saya ditolak. Entah gimana. Tapi setengah jam berselang ketika saya udah lemes dan memutuskan untuk pulang, ada seorang polisi nyamperin. Dan bilang kalo dia akan bantu saya. Bantu yg benar2 tulus tanpa imbalan. Sejam kemudian saya dapat SIM yg baru. Dalam hati saya bilang, Allah itu beneran Maha Baik ya. Terus terngiang2 dalam otak saya gimana cara Tuhan bekerja. Dan gak lupa saya doakan berupa2 kebaikan utk pakpol yg sudah bantuin saya ini.
Kemaren, saya nonton film Five Feet Apart dan tersedu sedan menyadari betapa beruntungnya saya atas kesempurnaan hidup yg sudah Tuhan kasih. Di saat orang lain terlahir dengan penyakit dan cobaannya sendiri2. Ada yg putus asa. Ada yg memilih menyerah. Ada yg berjuang keras meski tau harapan hidupnya hanya sedikit. Lalu saya, yg punya segalanya ini terkadang justru abai dalam mensyukuri kesehatan dan kecukupan yg sdh saya punya. Parah sekali saya ini.
Semalam saya makan berdua dgn seorang teman lalu berbagi cerita. Tentang temannya teman saya yg baru saja nikah tapi dia dan suaminya belom punya pekerjaan yg tetap. Sampe cewenya skrg sakit gara2 hamil dan harus rawat inap, mereka bener2 gak punya uang dan harus minjem ke orangtua. Padahal dalam kacamata saya, mereka ngadain pesta nikah kemaren lumayan mewah. Dekornya bagus. Tamunya banyak. Seragam bridesmaid juga keliatan mahal. Uang dari mana ya? Mgkn sumbangan ortu dan keluarga. Terserah mereka sih. Tapi setelah acara resepsi yg super megah itu, suami istri memble karena terjepit masalah duit. Lalu kebingungan ke depannya harus gimana.
Hufffttt. Nikah tu gak asal maen nikah aja maifren. Butuh perencanaan yg matang. Dan saya jadinya setelah melihat kemalangan orang laen baru bisa bersyukur. Bersyukur karena nikah benar2 pakai biaya sendiri hasil kerja keras kami berdua. Dan setelah nikah, duit gak abis total karena masih bisa beli rumah. Dan tentu, kami sama2 punya pekerjaan tetap yang sangat cukup untuk memenuhi kebutuhan pribadi maupun untuk bantu2 keluarga. Allah itu benar2 baik sama saya. Sama cowo saya. We're so blessed.
Sekarang, saya mulai mencoba menjalani hidup dengan lebih positif. Untuk gak terlalu mengeluh tentang kekurangan saya yg banyak di sana sini. Tapi justru mulai menghitung berkat yg setiap harinya Tuhan kasih. Semoga saya terus bertumbuh menjadi lebih baik, meski masih jauuuuuh sekali dari kata baik, apalagi sempurna. Doakan saya ya.
Hopeless
Kenanganku ttg papa adalah saat beliau pulang tugas dari Jakarta. Umurku 4 tahun kala itu. Masih TK. Dan aku dibelikan jam tangan sailormoon. Itulah jam tangan pertamaku.
Kenangan yg lain adalah tentang sampul buku berwarna coklat. Yg selalu dengan telaten beliau sampulkan pada buku catatanku dan kakak agar tetap rapi. Pensil2ku diraut papa dgn tajam. Sepatu sekolahku pun disemir hitam. Lucu. Namun sejak hari itu aku tahu apa yg tersimpan di hati papa. Sesuatu yg seumur hidup tak pernah beliau katakan: sekolahlah setinggi2nya melampaui apa yg telah papa raih.
Hari ini aku gamang. Menyalami seseorang yg sebentar lagi berangkat utk sekolah ke luar negeri. Kulihat bayanganku yang terpantul dari kaca lemari. Aku nampak mengkerut disana. Seperti pesakitan yg putus asa akan masa depannya sendiri. Aku merasa sampah. Seburuk2nya sampah. Dan aku merasa hina. Sehina2nya anak durhaka yg tak mampu memenuhi harapan orangtuanya.
Terkenang kembali akan masa2 SDku dgn papa. Tangan kurusnya membentangkan karton manila putih. Membuat garis2 sejajar dgn ukuran tertentu lalu mulai mengukir huruf2 besar. Become Became Become. Break Broke Broken. Give Gave Given. Take Took Taken. Berpuluh kata berderet di sana. Aku takjub. Begitu cara beliau agar aku mudah belajar bahasa inggris. Maka saat itu kupikir papaku adalah salah satu orang paling pintar di Indonesia. Selevel dgn para menteri2 kabinet pembangunan VI. Mungkin Ali Alatas, atau Harmoko, atau yg lainnya.
Kini, melihat ke dalam diri sendiri yg hidup tanpa ambisi ini, aku sadar dalam sepenuh2nya kesadaran. Bahwa aku tak mampu menjadi apa yg papaku harapkan. Sekolah yg tinggi. Jadi manusia berguna. Membanggakan negara dan orangtua. Semua yg terbaca olehku lewat sorot matanya membuatku merasa amat bersalah. Betapa aku ini adalah anak yg tak berguna dan selalu mengecewakan.
Maka petang ini, kutenggelamkan diriku dalam tumpukan dokumen2 kantor untuk menutup rasa bersalah pada papa. Dan rasa bersalah pada diri sendiri yg hidup tanpa mimpi.
Dia
Pada ingatan. Pada kenangan. Pada apa2 yg membuatnya ingin selalu menengok ke belakang.
Biarkan sekali ini saja. Dia tumpahkan sederas-derasnya tangisan.
Aku dan Sepeda Ayah
Pagi itu seperti biasa, seperti minggu pagi yg sudah2. Ayah akan memboncengku naik sepeda, melewati 4 persimpangan hingga tiba di ujung dermaga. Sebentar saja. Tak lebih dari 20 menit. Asal aku dapat mendengarkan cerita tentang kebijaksanaan burung2 nokturnal. Atau tentang para cacing yg baik hati. Tentang hidup yg beliau kisahkan dalam bahasa2 sederhana namun indah. Dalam puisi2 khas pria setengah baya yg tidak tamat SMP.
Pukul 7 nanti kami mesti kembali ke rumah. Begitu selesai sarapan, ayah sudah harus berangkat kerja. Mengayuh becak sekuat yg beliau mampu agar periuk nasi kami tetap terisi. Dan agar aku bisa terus sekolah. Belajar sekeras kayuhan pedal becaknya agar aku dapat menghidupkan mimpi masa kecil ayah: sekolah di Inggris. Bergetar dadaku mendengar cita2 maha dahsyat itu. Sedang cita2ku teramat sederhana dan standar, khas anak lelaki pada umumnya. Menjadi polisi, karena menjadi power ranger amatlah tidak mungkin. Tapi aku tak pernah sekalipun mengatakannya pada ayah. Bagaimana bisa aku melukai hatinya? Meski aku tahu sekolah di luar negeri terlalu berlebihan untuk bocah kampung miskin sepertiku. Tak akan pernah tergapai. Namun bagi beliau, bagi ayahku yg pernah putus sekolah karena terbentur biaya, setiap tetes keringatnya adalah aliran deras air sungai yg mengantarkanku menuju laut. Menuju masa depan penuh pengharapan. Aku harus meneruskan mimpinya. Aku tak ingin ayah kecewa.
Tak seperti biasa ayah belum bangun sesiang ini. Pukul enam. Ibu sudah sibuk di dapur. Tapi ayah tak kunjung bangkit dari tempat tidur. Apakah ayah membatalkan janjinya secara sepihak? Adakah beliau marah karena nilai bahasa inggrisku tidak sembilan seperti semester lalu? Aku tak tahu. Kuhampiri beliau di kamarnya. Beliau nampak lelah terkujur di kasur. Kupanggil namun tak ada jawaban. Aku coba menepuk2 lengannya, barangkali beliau akan bangun dan minta diambilkan air putih. Hening. Kuguncangkan tubuh kurusnya dan saat itu aku tersadar dalam kenyataan yg paling memilukan. Ayah tak akan pernah lagi terbangun dan memboncengku dgn sepedanya. Beliau telah pergi. Meninggalkan aku dan ibu dalam tanda tanya akan hari esok.
Langit seperti runtuh menimpaku. Dan badanku jatuh terkulai dalam jerit yg meneriakkan satu nama.
Menutup Januari
Malam ini hujan. Rasanya pengen nyeduh kopi. Duduk di teras. Menikmati hawa dingin seorang diri aja.
Tapi saya harus kerja. Menutup bulan januari ini dengan lembur. Kerja sampe mabok sendiri. Dan akhirnya, challenge buat 31 hari menulis di bulan Januari gagal total. Sedih.
Bingung ya kenapa kita suka bete kalo sibuk banget. Tapi bete juga kalo gada kesibukan. Huftt.





