RSS

Lautan Kehidupan


Lagi scroll-scroll notes di HP dan nemu tulisan ini. Tulisan yang terinspirasi dari cerita temen saya yang bisa dibilang cukup menyedihkan. Gak tau deh gimana jadinya saya kalo ada di posisi itu. 





Jika hidup seumpama lautan, maka masing-masing dari kita akan berlayar menuju satu titik pemberhentian. Ombak adalah ujian, badai adalah pencobaan. Jika orang-orang melihat perahu saya mengapung manis membelah samudera, jika yang tampak selalu adalah layar saya yang tetap terkembang dalam segala musim dan peristiwa, itu karena saya mencoba tegar dan berjiwa besar. Saya pernah terjungkal dan hampir tenggelam. saya pernah lelah dan ingin sekali menyerah. Tapi orang tak pernah tahu berapa banyak tambalan yang saya buat untuk menutupi perahu yang bocor dan berlubang. Saya tak mau memperlihatkan kelemahan. Saya tak sudi merutuki kesulitan. Saya percaya perjalanan masih panjang. Dan saya harus sampai pada dermaga akhir. Pada titik ujung pemberhentian yang menjanjikan kemenangan dan kebahagiaan. Maka saya harus ke sana, sekalipun dengan bahu yang tersayat dan kaki yang berlumuran darah.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Kakek Itu



Terharu. Cuma kata-kata itu yang saya punya ketika melihat banyaknya berita yang berseliweran tentang Bambang Hartono. Saya bangga, bangga dan kagum setengah mati melihat sosok berusia senja yang gagah berani membela negara. Orang terkaya di Indonesia, kakek pemilik perusahaan Djarum, pemilik beberapa mall elit, pemegang saham BCA, dengan begitu rendah hatinya menerima hadiah dari presiden yang hanyalah sepersekian dari seluruh harta kekayaannya.

Beliau, yang keturunan tionghoa itu, tersenyum penuh arti memegang buku tabungan Britama berisikan sebaris angka, sembari menunjukkan medali perunggu yang diraihnya dalam ASIAN GAMES 2018 untuk cabang olahraga bridge. Bagaimana bisa saya tak menguraikan air mata? Di detik itu juga saya merasa hina sehina-hinanya.

Di usia sesenja itu, dengan pencapaian hidup yang luar biasa tak terkira, dengan kekayaan yang tiada habisnya, beliau sadar bahwa tak semua hal di dunia ini terbeli dengan materi. Adalah prestasi, Adalah pengabdian pada negeri, hal yang ingin beliau beri sebelum ajal memanggil beliau kembali.

Mungkin saat ini semua orang bisa membuka matanya lebar-lebar. Bahwa tak masalah berapapun usia ada, dari ras atau agama manapun, semua orang punya kesempatan yang sama untuk berbuat sesuatu untuk tanah air. Dan lagi, tanpa kerendahan hati dan sikap saling menghargai, kita semua tak lebih dari sekedar sampah-sampah bernyawa yang berserakan mengotori negeri ini.

Saya belajar banyak dari kakek Hartono. Pelajaran-pelajaran hidup yang tak terjabarkan lewat satu-dua bait kata-kata. Tidak pernah ada kata terlambat untuk meraih mimpi, untuk mengukir prestasi, untuk menunjukkan jati diri, untuk berbuat lebih dan lebih lagi bagi ibu pertiwi.



  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Juli kala itu


Bisakah kumemutar Juli kala itu? Ketika kabut tipis turun menggores langit. Kamu berdiri di atas undakan tanah basah, mengamati kejauhan yang entah apa. Lalu aku, dalam diam mengamatimu lekat penuh tanya. Kita hanyalah dua manusia yang saling mengenal tanpa pernah berkenalan lewat jabat tangan. Namun aku lebih dari cukup untuk membaca seluruh angkasamu. Aku mengerti rasa cemasmu. Sama seperti aku mengerti garis-garis pada sidik jemariku.

Lupakan sedihmu, kemarilah! Biar kupeluk kau hingga mentar menyibak awan gelap.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Mengenang


Apa lg hal yg lebih pedih daripada mengenang?
Gerimis dan bau tanah basah. 
Senja dan airmata.
Dekapan.
Perasaan takut kehilangan. 
Jemari yang terlepas dari genggaman. 
Saat kamu berbalik menyisakan kosong.
Dan aku hampa.
Melanjutkan hidup yang entah untuk apa.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Memaksa Lupa


Dari ketinggian seribu meter di atas kota bandung, aku melihat sebentuk wajah dalam hamparan awan2 putih. Aku melihat cahaya yg terbias dr ujung langit, persis seperti pendar cahaya dr sorot mata teduhmu. Segala ketidakwarasan yg kujumpai, kutemui, kusaksikan, selalu memunculkan ingatan demi ingatan. Tentangmu. Tentu.

Aku melihatmu dalam kristal tetesan hujan di kaca jendela mobil. Aku melihatmu dalam senyum gadis2 kecil yg memegang eskrim. Aku mencium wangi serupa tubuhmu di tengah keramaian manusia, lalu dgn gilanya aku mencarimu dlm kemustahilan.


Kosong.



Aku menghirup dalam2 aroma kopiku, membiarkannya memenuhi rongga paru2 hingga sesaat aku bisa lupa. Pd bunyi tawamu, pd caramu menatapku dgn lekat, pd setiap inci dr dirimu yg selalu menghadirkan perasaan rindu. 



Bodohnya. 



Aku terlalu memaksakan diri utk segera lupa. Dan justru itulah bagian yg paling membuatku tersiksa..

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Ingatan

Kadang yg lo rindukan itu bukan tempatnya, tapi kenangannya. Saat lo pertama kali belajar naik sepeda dan lo jatoh lalu lutut lo berdarah. Saat lo udah selesai kelas tapi masih harus nungguin abang lo di depan kelasnya biar kalian bisa pulang sekolah bareng. Atau saat lo jatuh cinta, dan cinta itu berbalas dg amat manis berbunga2. Sejujurnya yg plg kita rindukan bukanlah tempat, melainkan peretelan kenangan yg hanya terjadi sekali sj seumur hidup.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Pagi yang Menghangat di Tahun Itu


Pagi yang menghangat di tahun itu. musim hujan belum mulai mengetuk. Aku berdiri dengan ransel di pelataran bandara menanti jemputan. Di sana, seseorang bergerak ke arahku, menyalamiku dengan dingin lalu menyebut sepotong nama yang belum pernah kudengar sebelumnya. Di perjalanan, dia tak banyak bicara kecuali jika kutanya. Singkat. Acuh tak acuh. Mengesalkan. Hanya itu yang dapat aku gambarkan. Setelahnya, aku tak pernah tahu jika perempuan ini nantinya akan menjadi pusat dari tata suryaku. Dialah inti. Medan magnet yang selalu menarikku untuk pulang padanya. Cinta telah menyeretku dengan caranya yang paling tidak masuk akal. Dan anehnya, aku justru menyukai setiap permainan dan kejutan manis yang ia bawa..

Pagi yang berbeda di beberapa tahun setelahnya. Aku melihatnya berbalut gaun keperakan, warna yang persis sama dengan apa yang kukenakan. Dia tersenyum dalam bingkai lipstik merah muda yang elegan sekaligus manis tak terperi. Aku menghampirinya, mengusap lembut kepalanya sebab aku telah berjanji di hadapan Tuhan untuk selalu memperlakukannya dengan baik. Aku tak pernah tahu bagaimana aku bisa ada di sini, atau bagaimana bisa hatiku ditautkan dengan hatinya sedang kita adalah dua kutub yang sama sekali berbeda.



Yang aku tahu dan yakini, Tuhan telah mempercayakan aku untuk menjaga sepotong hati dengan penuh kehati-hatian. Hati yang mudah rapuh sehingga harus selalu aku lindungi. Hati yang juga amat lembut yang selalu memberiku limpahan cinta dan rasa bahagia.

Alhamdulillah, hari itu dia mau menjemputku. Dan giliran hari ini, aku yang datang menjemputnya.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS