RSS

Tompel

Aku kangen memanggilmu 'Tom' seperti waktu-waktu yang telah lalu.

Aku kangen menyisir pantai losari bersamamu pada suatu sore di Makassar kala itu.

Aku kangen mempelajari kord-kord gitar dan bernyanyi bersamamu.

Aku kangen padamu yang mengajariku gerakan menari saat aku melakukannya dengan tidak becus.

Aku kangen lelucon-lelucon bodoh yang sering kita lontarkan, hanya sekedar untuk menegaskan pada dunia bahwa kita bahagia dengan cara kita sendiri.

Tom.. aku tahu kau tidak punya tompel seperti yang sering dipertanyakan orang-orang, tapi aku terlanjur senang memanggilmu dengan sebutan itu.

Tom.. Namamu pernah ada di garis waktu, kupigura agar abadi dalam singkatnya hidup, tentu saja sebagai perlambangan atas persahabatan yang ganjil ini.

Tom.. kadang-kadang aku benci mengapa harus ada sesuatu bernama persahabatan di dunia ini? sebab aku ingin sekali berusaha lupa, lupa padamu, lalu meyakinkan hatiku bahwa kita tak pernah saling mengenal, satu sama lain..

Itu melegakan bagiku..

jangan tanya itu jujur atau dusta. aku tak tahu!


  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

dulcis domus home

Saya pernah bergelayut manja pada ranting-ranting pohon guava di halaman depan. Atau berayun bersama kakak di ayunan yang papa ikatkan kuat-kuat di pohon mangga. Langit-langit ruang makannya merekam lekat-lekat suara bahagia keluarga yang tengah menanti adzan magrib untuk berbuka puasa. Di ruang tamunya, menjadi tempat paling menyenangkan untuk belajar membaca Iqra bersama papa selepas magrib. Atau memandangi beliau yang dengan sangat lincah menyampulkan buku-buku tulis kami, meraut pensil-pensil saya agar tetap tajam, mengajari saya cara menggambar gunung dan pohon kelapa lalu mewarnainya dengan pensil warna bermerek luna. Di ruang tamu itu ada sofa berwarna coklat, tempat kami para bocah sering bermain, duduk-duduk dan bertukar cerita.

Dinding-dindingnya menyimpan banyak cerita bahagia, juga menyimpan isak tangis dari para penghuninya. Di sana saya pertama kali belajar menuliskan nama saya sendiri, belajar mengayuh sepeda, belajar memasak dan menyetrika, belajar memakai pembalut di hari pertama menstruasi, belajar menjadi dewasa dan mengenal diri saya sendiri. Banyak kenangan yang tidak dapat saya ingat semuanya satu persatu, tapi di lantai semen itu, di tempat saya sering berbaring sambil menonton serial kartun favorit saya, terpahat dengan jelas semua jejak masa lalu yang pernah saya tinggalkan, yang pernah kami sekeluarga tinggalkan. Rumah itu bukan sekedar tempat berlindung, tempat berkumpul sepulang dari menempuh perjalanan, tapi terlebih dari itu, ia adalah simbol bagi sebuah keluarga. Ia adalah perlambangan rasa damai, ketenangan, kebahagiaan, kebanggaan yang tak pernah surut dari kami terhadap kedua orang tua kami, dan dari kedua orang tua kami terhadap kami, anak-anak mereka. Ia adalah wadah kasih sayang, tempat dimana kami menemukan sebanyak-banyaknya cinta, dan dengan cinta yang berlimpah ruah itu kami ingin membagikannya kepada siapa saja yang membutuhkan.

Di dapur yang gelap dan bercat seadanya, di situlah ruang kerja abadi mama. Kami, laki-laki ataupun perempuan, termasuk juga papa, sering bahu-membahu mengerjakan kue-kue pesanan yang diterima mama. Sejak saya masih gagap menghafal perkalian, tangan saya sudah lincah membuat pastel, membuat hiasan kue tart, memegang mixer, menggulung risol ataupun panakuk. Perkakas-perkakas pembuat kue yang tersimpan di dalam lemari kayu tua di sudut dapur itu jelaslah menjadi saksi bisu, bagaimana setiap tindak-tanduk mama hanyalah untuk membuat kami menjadi pribadi yang mandiri, kuat, tidak gampang menyerah. Betapa setiap adonan kue yang dicampur dengan tangan keriputnya itu adalah luapan rasa sayangnya yang tak terbendung kepada keluarganya, kepada kami yang selalu ingin menjadi pahlawan baginya.

Keluar dari dapur, ada sumur tempat saya dan kakak sering mandi bersama dan bersembunyi di dalam dua buah tong air berwarna biru yang tingginya persis seperti tinggi badan saya sewaktu itu. Airnya hangat. Saya jadi mencintai kegiatan mandi di sumur ini, hingga nantinya saya besar dan tersadar,  mandi telanjang di depan orang yang berlalu-lalang adalah perbuatan paling hina yang pernah saya lakukan. Terlepas dari itu semua, sumur itu merekam proses tumbuh kembang saya, mencatat setiap peristiwa bahagia, sedih, marah, kecewa, haru, bangga, susah dan senang yang bergulir setiap harinya dalam hidup saya.

Rumah tua di dekat jalan raya itu, terlalu banyak yang saya lalui di sana. Kenangan-kenangan akan masa kecil yang indah, kenangan-kenangan saat saya mulai beranjak remaja, tempat saya merasa menjadi orang paling berarti bagi keluarga, bagi para sahabat.




Hampir lima tahun telah berlalu dari saat-saat api memporak-porandakannya pada pukul dua dini hari di bulan maret. Hadiah paling buruk bagi kami berlima yang berulang tahun di bulan itu. sekejap saja, seperti dibawa angin entah kemana, lalu tanpa pernah kami tahu siapa yang harus menyalahkan siapa. Kenangan.. akan selamanya bernama kenangan.. sekalipun harus ada isak tangis kehilangan akan benda yang paling kami cintai: rumah. Tapi toh Tuhan pasti memberikan yang terbaik jua.. akan selalu ada hikmah, tergantung secepat apa kami memetiknya..

Kini, melewati depan jalan raya itu. sengaja menengok ke arah kiri. Seperti ada sedikit rasa perih yang menggores hati. Di sana hanya ada  rumput ilalang yang menjuntai tinggi menutupi sisa-sisa reruntuhan rumah masa kecil kami. Dan rasa perih yang menggerogoti hati itu menjelma menjadi suatu keinginan yang kuat: saya ingin memberikan rumah untuk mama dan papa. Rumah sederhana yang menyimpan banyak cinta dan kenangan. Seperti rumah kita dahulu..

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Menulislah, nak!

Menulis adalah mencipta. Dalam suatu penciptaan seseorang mengarahkan tidak hanya semua pengetahuan, daya dan kemampuannya saja, tetapi ia sertakan seluruh jiwa dan nafas hidupnya (Stephen King).

Kalau engkau bukan anak raja dan engkau bukan anak ulama besar, maka jadilah penulis (Imam Al-Ghazali).

If you would not be forgotten as soon as you are dead, either write things worth reading or do things worth writing (Benjamin Franklin)

Writing is the only thing that, when I do it, I don’t feel I should be doing something else (Gloria Steinem).


Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian (Pramoedya Ananta Toer).
  
Writing is the best way to talk without being interrupted (Jules Renard).

As a writer, words are your paint. Use all the colors (Rhys Alexander).

Good writers are those who keep the language efficient. That is to say, keep it accurate, keep it clear (Ezra Pound).

Anybody can make history. Only a great man can write it (Oscar Wilde).

Penulis tidak pernah dilahirkan, tetapi dia diciptakan. Bakat menulis tidak selalu dibawa sejak lahir, tetapi tumbuh oleh satu motivasi dan gagasan (Bambang Trimansyah).

keep writing!!

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

gambarin gue donk!

Beberapa waktu lalu di postingan saya sebelumnya, saya ngegambarin muka si abang pijar. gambarinnya di paint. tau paint kan? tanggapan dari dia: gambarnya naujubile banget.

kurang ajar kau, nak. saya telah membuatnya sepenuh hati asal kau tau, pablo! semudah itukah kau hina hasil karyaku? di mana hati nuranimu????? oke, oke, karena dia telah memperkosa menghina saya pasca pembuatan gambar wajahnya itu, maka sekarang gantian donk! dia yang saya suruh gambarin muka saya. ahihihihihi..

jeng jeng jeeeeeng...


saya versi kebohongan publik




Gimana pirsawan? hidung saya sungguh sangat tidak sesuai dengan kenyataan yang sebenarnya kan? Ahahahahaha.. dengan kedipan mata seperti itu, saya merasa seperti tante-tante yang lagi ngedipin berondong.. yihaa!

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

mari membuat es pisang ijo

Siang-siang bolong yang hot ini seperti bolongnya punggung kamu yang gak hot itu emang paling mantep minum ato makan yang seger-seger sambil duduk di bawah pohon mangga depan rumah pake baju you-can-see-my-ketek.. betul? Betuulllllllll *terdengar suara dari atas pohon*

Karena temen-temen saya beberapa waktu lalu pada penasaran gimana sih cara bikin es pisang ijo yang enak dan rasanya gak-aduh-mak-apaan-nih, demi itu saya dikejar-kejar buat diwawancara seputar cara membuat es pisang ijo ala saya (ala emak saya tepatnya) yang rasanya emang cihuy itu. Maka sini nak, sini.. bunda beberkan resep es pisang ijo ala bunda yang akan membuat calon ibu mertua kamu memasang ekspresi “jangan-coba-coba-kawin-dengan-pria-lain-selain-anak-saya”

Here it goes..

Bahan-bahan:
- 10 buah pisang raja yang udah mateng (pisang RAJA ya nak, jangan pisang yang aneh-aneh karena rasanya pasti akan seaneh wajah kamu).
- Tepung terigu 2 gelas
- Santan dari 1 buah kelapa
- Telor 1 butir
- Pasta pandan (pewarna makanan warna ijo yang beraroma pandan)
- Susu kental manis putih
- Syrup ABC/marjan yang rasanya cocopandan  yang warna merah menggoda birahi itu
- Gula pasir
- Garem alus yang beryodium biar kamu gak kena penyakit gondok (?)

Cara membuat:
Langkah awal kamu bagi 2 aja santennya, soalnya yang setengahnya bakal dipake untuk bikin ‘kulit pisang ijo’, yang setengahnya lagi buat bikin ‘fla’. Gitu juga dengan telor. Kocok telornya trus entar setengahnya dipake buat kulit pisang ijo, setengah lagi buat dipake di fla. Got it?

 Untuk bikin kulit pisang ijo:

kulit pisang ijo
  • Sebelum campur adonan kulit ini mending kamu kukus aja dulu 10 buah pisang biar menghemat waktu (jangan kupasin kulitnya baru dikukus, biarin aja kaya gitu).
  • Sembari nunggu pisangnya selesai dikukus, campur 1 ½ gelas terigu, garem secukupnya, ½ bagian telor, sama santen. Aduk-aduk sampai terigunya gak ‘berbiji-biji’ lagi. Soalnya biasanya di bagian ini paling susah untuk menghilangkan terigu yang menggumpal-gumpal akibat kena cairan santen. Inget campuran ‘kulit’ ini jangan kental-kental banget, kalo cair juga jangan kebangetan lah! Pake feeling pokonya.
  • Tuang 2-3 tetes pasta pandan sampe warna ijonya pas menurut kamu lalu aduk-aduk.
  • Panaskan teflon dan mulailah menuangkan sedikit demi sedikit campuran ke atas teflon. Inget kalo kulit ini harus kamu bikin setipis mungkin, karena kalo tebel namanya bukan kulit pisang ijo donk, bakalan jadi martabak ijo! Camkan itu!
  • Kalo udah kering, angket, taro di piring, dan tuangin adonan ke teflon lagi terus menerus sampai 10 kali. Jangan sampe gosong!
  • Kalo pisang yang kamu kukus udah mateng, kupasin kulit pisangnya lalu kamu bungkus pisangnya dengan kulit ijo tipis yang udah kamu buat tadi. See?
pisang yang udah dikukus

Untuk bikin fla:
  • Campur ½ gelas terigu, sedikit garem, santen dan telor sisa tadi, juga gula pasir (gulanya dikira-kira aja sampe menurut kamu campurannya udah manis).
  • Aduk-aduk sampai bercampur rata lalu panesin dengan api kecil.
  • Aduk-aduk terus biar gak gosong, kalo udah padet-padet kental kaya bubur gitu matiin aja apinya.

Cara menyajikan:
Satu pisang ijo ditaro di satu mangkok, potong-potong lalu masukin 2-3 sendok fla. Masukin es batu yang udah kamu hancur-hancurin terserah mo sebanyak apa, tuang syrup cocopandan secukupnya lalu dilanjutkan dengan susu kental manisnya.
Voila! Kini kamu sudah bisa menyantap es pisang ijo yang rasanya pasti jaoh lebih enak daripada es pisang ijo buatan orang Makassar asli *digaplok orang Makassar*


gambar diambil dr google


*porsi 10 mangkok untuk 10 orang.

ribet ya? ah, saya aja bisa, kamu juga harus bisa donk!

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Belajar gaya hijau ala Elpi

Holaaa.. ini jam berapa ya pirsawan? Aih.. udah pagi aja ya sekarang! Yang lagi asik belajar di depan ms.excel, asik mencet-mencet kalkulator dengan jarinya yang segede lengkuas bangkok, asik baca-baca hand-out sampe ketiduran sambil mimpi basah-basah-membasahi, buruan dah lapin tuh iler-iler kamu semua. Yuk daripada kamu-kamu di situ terutama kamu, iya kamu, kamu yang di pojokan itu! ngapain nengok ke belakang lagi? *lemparin pake leptop*. Daripada kamu-kamu semua belajar sampe lupa diri ada baiknya break sejenak dan baca nih tips-tips belajar dengan gaya hijau ala saya yang muda belia ini tentu saja. Tunggu apa lagi? Yuhuuu, langsung kita meluncur ke TKP!

1.  Kertas coretan kenapa harus yang cantik?
Yep! Kalo kamu kuliah di jurusan yang ada itung-itungan macam saya ini (misal kamu anak teknik, anak matematik, anak ekonomi-akuntansi, anak statistik, etece etece), kalo belajar pasti dah tuh butuh banget yang namanya kertas coretan buat latihan ngerjain soal-soal untuk persiapan ujian. Eits, jangan oh jangan kau gunakan kertas HVS yang masih putih bersih nan suci itu, nak. Itu namanya pem-bo-ros-an! Di rumah pasti banyak tuh kalender-kalender bekas yang udah ga kepake lagi. Bagian belakangnya yang kosong itu kan bisa kamu pake buat jadiin kertas coretan. Kalo kamu sering ke mall dan ketemu sama mas-mas ato mbak-mbak yang hobinya nyodorin brosur-brosur makanan lala-lili yang mengoda birahi kerakusan kamu (misal: CFC, Chicken Story, Platinum, dll), ya kudu disimpen atuh cin brosur model begituan. Bagian belakangnya yang kosong kan bisa kamu gunain lagi buat mencorat-coret rumus-rumus yang menyebalkan seperti pacar kamu yang doyan selingkuh itu. kamu tenang, bumipun senang.


2.    Pensil mekanik=yes!
pensil mekanik eke
iya, pensil mekanik itu bisa dipake bertahun-tahun lamanya kalo aja pensilnya gak kamu gunain untuk ngelempar mangga punya tetangga. Kalo mata pensilnya abis, ya tinggal beli aja isi ulangnya. Sederhana sih dan keliatan sepele, tapi kalo dilakuin sama banyak orang, ya ngefek juga bagi pohon-pohon kita di luaran sana. Bayangin aja kalo seribu orang gunain pensil kayu yang mesti ditajemin pake rautan itu, dalam setaun aja udah berapa banyak pohon yang mesti ditebang untuk memproduksi pensil-pensil yang baru lagi? Ih, bencana banget dah mamen!


3.    Tulisan kamu jangan segede kingkong!
Camkan sekali lagi bahwa tulisan kamu sungguh sangat berdampak pada banyaknya kertas yang nanti akan kepake. Mule sekarang berlatih dah tu siang malam demi memperkecil tulisan tangan kamu. Font yang biasanya 12 dikecilin lagi sampe jadi 8 gakpapa kok. Hahaa.. mo lebih kecil dari itu juga boleh benjet bebi, sekalian biar dosen yang baca tulisan kamu mesti pake lup ato mikroskop. Cara ini ampuh banget untuk membalas perlakuan dosen kamu yang sukanya ngomel-ngomel di kelas persis orang yang abis nelen petasan. eureka!


Ntar kalo keinget lagi baru dah saya tambain. Kalo ada yang berkenan mo nambahin, sok atuh, bakal saya kasih sepaket ciuman hangat dari si abang mamat! cups..



  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

kelak

Kelak, akan ada hari dimana saya merindukan Jakarta, merindukan suara bising kendaraan, merindukan suara ibu-ibu yang saling bertegur-sapa dengan logat khasnya, “mo kemane, mpok?”

Kelak, saya tahu akan ada titik di mana saya duduk lama dan memikirkan bahwa Tuhan selalu memberikan kejutan-kejutan manis kepada saya dengan cara yang dulu teramat saya benci. Dan akhirnya saya hanya bisa berucap syukur kepada-Nya yang Maha Baik. Tuhan tak pernah salah.. begitulah hakekatnya..

Kelak, akan ada hari dimana saya rindu dengan semua rutinitas ini: menatap punggungmu, menghirup aroma parfummu, membetulkan kerah kemejamu.. rindu pada caramu memegang sumpit, pada suara bersinmu yang menyebalkan, pada caramu menggulung lengan jaket, pada setiap kata-kata konyolmu yang membuat saya.... ah, kenapa saya harus menyukaimu?

gambar dibuat sepenuh hati

Jakarta.. terimakasih telah mengenalkan saya padanya.. pada pria busuk ini :)

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

ngijo

Hari gini orang pada ngomongin go-green semua. Mulai dari desain kantong plastik ramah lingkungan yang mudah didegradasi, tempat sampah di manapun itu yang mengharuskan kita untuk membuang sampah organik sama anorganik secara terpisah, sampai ke aksi penanaman seribu pohon yang dilakukan oleh murid-murid SD lala-lili. de el el. Gimana sama kamu sendiri? Masih merasa beratkah untuk memulai kebiasaan hijau? Atau sebenernya dalem hati kamu pengen banget ngelakuin aksi hijau, tapi ngerasa gak bakalan ngaruh kalo cuma kamu doank yang ngelakuin? Gak usah ribet mikirin yg berat-berat. Sebenernya ada hal yang tanpa kamu sadari udah termasuk dalam aksi hijau loh :D


1.    Gak bisa tidur kalo lampunya gak dimatiin.
Tarohlah kalo rata-rata waktu tidur kamu adalah 6 sampe 8 jam tiap malemnya. Ini berarti kamu sudah menghemat energi selama kamu tidur dengan tidak menyalakan lampu. Dan percaya deh, kalo lampunya dimatiin, tidur bakalan jauh lebih lelap dan tentu saja ini berguna buat kesehatan kamu. karena dalam keadaan yang benar-benar gelap tubuh menghasilkan hormon melantonin yang mampu memerangi dan mencegah berbagai penyakit termasuk kanker payudara dan kanker prostat. Cool ;)

2.    Tulisan tangan dengan ukuran huruf kecil-kecil.
Kalo tulisan kamu kecil-kecil kamu pasti menghemat lebih banyak kertas. Bayangin aja berapa banyak pohon yang harus ditebang untuk menghasilkan kertas-kertas itu? setiap kali ujian, teman-teman saya selalu meminta tambahan kertas untuk lembar jawaban mereka, padahal jujur dari 2 lembar kertas yang diberikan dosen, saya masih menyisakan satu halaman kosong loh. Ngefek banget kalo tulisan kamu kecil-kecil macam saya, bumipun akan tersenyum padamu, nak..

3.    Ngumpulin tugas via email ke guru/dosen.
Masih soal penghematan kertas, dengan ngumpulin tugas via email kamu akan menghemat kertas yang tadinya mo dipake buat ngeprint tu tugas. Ini berarti dosen kamu cerdas, dan kamu juga cerdas donk :D

4.    Mencopot charger hape/laptop.
Waktu mudik kemaren, greget banget pengen saya timpuk adek sepupu saya yang selalu ninggalin chargeran hape bergelantungan gitu aja. Apa susahnya sih dicabutin dulu pas mo pergi even kamu tuh buru-buru atau dikejar setan. Mungkin menurut kamu gak ngaruh ya, tapi tetep aja chargar yg dibiarin gitu aja tanpa dicabut bakal mengambil listrik walopun dalam jumlah dikit.

5.    Make jeans 2-3 kali baru dicuci.
Hey, ini gak jorok kok percaya deh. Celana jeans kamu gak bakal kotor-kotor banget kalo dipake buat jalan ke mall doank. Ya kecuali kalo jeansnya dipake buat maen lumpur atau gali sumur mungkin beda lagi ceritanya. Tapi sepanjang jeans kamu gak kotor-kotor banget, pake aja 2 sampe 3 kali sebelum dicuci. Hemat aer, hemat detergen, hemat tenaga pula. Voila!

6.    Kemana-mana bawa botol aer minum.
Sebagian orang mungkin ngetawain kamu dan bilang kamu kaya anak TK yang bawa-bawa botol minum kemana-mana. Tapi calm down, mamen. mereka gak tau aja betapa kerennya kamu yang sebenernya udah turut menjaga keselamatan bumi lewat botol minum kamu itu. daripada setiap kali kamu haus harus beli minuman di botol plastik dan ujung-ujungnya tu botol plastik cuma jadi timbunan sampah doank, kenapa gak beli botol minum sendiri aja? Bisa dipake berkali-kali dan pilihan modelnya juga pada ciamik. Punya saya juga keren abis bo! Belinya karena terinspirasi dari botol minum Jessica Iskandar waktu maen jadi pemain basket di film dealova itu loh.  Tau kan? Tau? Masa gak tau? *wink*

segini dulu, ada lagi gak ya? :D

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

orange

terik siang, sekeranjang jeruk, senyuman dingin, alunan nada dari gitar tua, dan berbuncah-buncah perasaan rindu..

lalu,
kala itu
dengan sangat malu-malu tentu
hati saya memproduksi dua warna: merah jambu bercampur ungu..

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

socks

sayang, udah dicobain belom koskaki yang gw beliin kemaren?

udah kok, tapi dari kemaren ada 1 pertanyaan di otak gw, apa bener koskaki ini ditujukan buat gw?
ya iya donk, emang kenapa? kaya cewe ya koskakinya?
kaya cewe mah udah pasti, yang lebih tragis lagi cuma muat setengah kaki doank.



pesan moral:
1. jangan pernah ngasih cowo koskaki.
2. koskaki cewe dan cowo itu JELAS sangat berbeda.
 

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

berpijar tegar


sepiring gurame bakar dan setumpuk cerita kelakar..

juga sepasang tangan yang selalu memegang dengan sabar..

pada petang yang penuh bingar

berdiri bersandar di sudut selasar

kulihat di sana, di matamu

terbias temaram warna senja

iya, itu di matamu, di hatimu.. 

di matamu..

di hatimu..

sesuatu yang sangat ingin kucuri darimu: tegar

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Menabur derita

Malam takbiran.. besok idul adha. saya risau (satu level lebih parah dari galau). tadi saya sms adek saya, katanya papa lagi nyabutin bulu ayam, pasti abis disembelih sama kakak saya yang emang udah tenar banget di dunia gorok-menggorok leher ayam.. mama lagi berkutat di dapur. biasalah, ibu-ibu. besok mama masak apa ya?

besok sepulang dari shalat ied, akan menghabiskan waktu di kamar kos sempit ini, sendiri lagi. masak indomie lagi, warteg gak buka lagi. hehe, miris sekali yaa.

saya rindu mama, rindu rumah, rindu para ponakan (alfian dan alifya) yang sukanya lari-larian dan tereak-tereak macam orang kesetanan. lempar petasan sana-sini, mengacau, bikin kesel, rasanya dua bocah itu pengen saya iket di pohon trus saya telanjangin, biar saya bisa bernafas lega sembari menonton acara tipi paporit tanpa ada yang mengganggu.

aduh, saya kenapa ya? akhir-akhir ini sering gak penting (emang biasanya penting?), labil!
saya pengen pulang, pengen mandangin papa yang nyabutin bulu-bulu ayam, atau bantuin mama ngupas-ngupasin bawang.

huks

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Callysta Elvareka


Fatmawati. Saya ingin sekali melupakan nama itu. tak peduli apa arti dibalik rangkaian huruf-huruf tersebut, tak peduli  jika dahulu ada seorang wanita dengan nama serupa yang telah menyumbangkan jasanya untuk menjahitkan bendera kemerdekaan negeri ini. saya tak peduli. bukankah Callysta Elvareka terdengar seribu kali lebih indah daripada Fatmawati? Ah, saya benci nama itu!

Malam itu terbungkus mendung, saya duduk di sebuah kafe, berhadapan dengan kakak, memesan dua cangkir coklat panas untuk menghangatkan hati kami yang dingin, hati saya terutama, karena malam itu menjadi awal mula saya membenci sebuah nama. Fatmawati. Sebuah nama yang dengan sangat bodoh hendak disematkan pada saya ketika kelahiran saya dulu, dua puluh tahun silam.

Ingin sekali rasanya saya tertawa terbahak-bahak lalu menuduh kakak telah membohongi saya bulat-bulat. Ingin sekali rasanya saya untuk tidak mempercayai satupun yang kakak ucapkan waktu itu. ingin sekali. Tapi saya tahu kakak sedang tidak bergurau. Dan detik itu saya berusaha menekan kuat-kuat perasaan kalut yang menggerogoti dada saya, sungguh menyesakkan, membuat semua kebanggaan dalam diri saya terkikis pelan-pelan, nyaris tak bersisa. Untuk sosok yang selama ini saya sebut ia sebagai ‘ayah’. Bagaimana mungkin?

Ayah yang baik, yang sering membelikan coklat warna-warni. Ayah yang tegas, yang selalu membuat kami belajar untuk selalu disiplin dan tepat waktu. Ayah yang perhatian, selalu memperhatikan prestasi kami di sekolah. Bagaimana bisa saya mempercayai bahwa ayah hendak memberikan nama Fatmawati pada anak bungsunya? Nama seorang perempuan yang diam-diam hadir di belakang ibu, perempuan yang saya tahu persis telah menyayat hati ibu, menggoreskan luka yang tak akan pernah sembuh meski puluhan tahun telah berlalu. Saya benci untuk mengetahui semua itu. tidak cukupkah kesetiaan ibu yang telah memberikan ayah enam orang anak? Tidak cukupkah kehadiran ibu yang telah memberikan segala hal terbaik yang bisa ia lakukan untuk membahagiakan ayah? Saya ingin sekali percaya bahwa cerita ini hanyalah mimpi, dan begitu saya terbangun, segalanya akan kembali normal. Tidak ada cerita tentang seorang perempuan bernama fatmawati, tidak ada cerita tentang ayah yang berselingkuh, dan terlebih, tidak ada cerita tentang ibu, tentang airmata ibu, tentang luka hati yang ibu tanggung dan usaha ibu untuk menutup rapat-rapat cerita ini.

Kakak yang waktu itu masih kanak-kanak ingat betul. Ibu yang menemukan bukti pengiriman sejumlah uang  ke rekening perempuan bernama fatmawati. Ibu yang mengurung diri di kamar. Ayah yang mendobrak pintu kamar. Ibu yang menangis diam-diam. Ibu yang tak ingin ada satupun dari anaknya mengetahui ada airmata yang pernah ia tumpahkan. Semua yang kakak ceritakan, semua gambaran itu menari-nari di pikiran saya. tiba-tiba saya menjadi begitu membenci ayah, membenci laki-laki tua itu, laki-laki yang selama dua puluh tahun ini saya banggakan, laki-laki yang saya sayangi dan selalu saya sebut namanya mendampingi nama ibu dalam tiap sujud-sujud panjang saya.

Jika ibu tidak memilih untuk bertahan, jika ibu tidak memilih untuk memaafkan, jika seandainya saat itu terjadi perceraian, mungkin saya tidak akan pernah tahu bagaimana rasanya menanti seorang ayah yang pulang shalat jumat, hanya untuk mencium tangannya, hanya untuk mencari bau surga di sana. Jika saja waktu itu ibu tidak memilih untuk tetap setia pada ayah, mungkin saya tak akan pernah tahu bagaimana perasaan senang ketika ayah mengambil raport saya di sekolah dan memboncengkan saya pulang naek sepeda motor tuanya.

Ah, ibu.. terimakasih karena kesetiaan ibu lah yang kini membuat ayah menjadi setia. Terimakasih karena secara tidak langsung ibu telah mengajarkan pada kami  bagaimana cara bertahan terhadap pasangan. Terimakasih karena ibu memiliki hati yang begitu putih, memiliki jiwa yang kuat, memiliki kesabaran yang tiada batas, untuk memilih memaafkan dan melupakan semua cerita pilu bertahun silam karena keegoisan ayah. Ada surga dari Tuhan khusus buat ibu. Saya percaya itu.

Sebagaimana ibu yang memilih untuk memaafkan, saya pun akan mencoba demikian. Memaafkan ayah. Saya akan berusaha. Perlahan. Meski berat. Ayah tetap orangtua saya, yang harus saya hormati, yang harus saya jaga nama baiknya.

 Ah, terkadang saya masih tetap ingin percaya, bahwa cerita ini hanyalah dongeng. Bahwa mungkin saya bermimpi, atau kakak yang bermimpi. Dan bahwa saya tidak akan pernah bertemu siapapun bernama fatmawati dalam hidup saya.
Semoga saja.

#untuk seseorang yang sangat ingin melupakan

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Erebos



Aku berjalan di tengah gerimis, sengaja melambat-lambatkan tiap ritme gerak langkahku.  Aku ingin mencari sesuatu di sana, sesuatu yang mungkin saja masih tertinggal. Aku ingin mencari sesuatu di sana, sesuatu yang membuat sebagian diriku mengutuki bagian diriku yang lain. Aku tetap ingin mencarinya, meski  Aku tahu bisa saja pada akhirnya Aku akan lelah dan berhenti. Bisa saja pada akhirnya Aku akan menyerah dan mengaku kalah.

Pada gerimis kali ini Aku hendak menitipkan salam. Mungkin salam perpisahan. Untuk diriku pada Oktober waktu itu. Sebab ada kalanya dengan agak terpaksa, harus ada yang mengakui bahwa Ia hanya dibolehkan hidup dalam mimpi orang lain. Lalu perlahan beranjak meninggalkan apa yang ia sebut sebagai:
dirinya sendiri.


  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Everything I do, I do it for you


Saya mengambil gitar di sudut tempat tidur, memainkan lagu yang dulu pernah kamu ajarkan kuncinya pada saya sembari menikmati sore.

lagu ini untuk kamu..
saya rindu, karena itu saya ingin bernyanyi..

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Verdriet

Ada sepetak hati yang diam-diam menangis saat kamu memutuskan pergi.

Ada sederet janji yang sejujurnya belum sempat kamu penuhi.

Perpisahan..
Kehilangan..
Bolehkah mereka tak usah saling berkenalan?


Sebab dia benci harus mati dibunuh kenangan.
Kamupun begitu, bukan?

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Ik heb je nodig

Pagi ini saya terbangun dengan satu rasa yang aneh.
Tentangmu..


Kamu bilang saya pesek, mirip Sule.
Saya bilang kepalamu besar seperti jarum pentul.

Saya tak habis pikir mengapa kita seringkali meributkan hal-hal yang tidak penting.





Tapi dibalik kebersamaan kita yang
mungkin terkadang membosankan itu..

Saya diliputi satu ketakutan..


Sungguh.

Saya takut jika kamu tak lagi di sini..

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

???

Man 'arafa nafsahu fakad 'arafa rabbahu,
Siapa yang mengenal dirinya maka akan mengenal Tuhannya.

Dalam.
Merisaukan.
Susah tidur aku dibuatnya.

Kata-kata ayah waktu itu membuatku kebingungan dalam teka-teki pencarian Tuhan.
Berhari-hari kurenungi diriku,
siapa, hendak kemana, berasal darimana, untuk tujuan apa..

Andai aku bukan muslim, bukan kristen, bukan hindu, bukan penyembah api, bukan pula bagian dari mereka yang menuhankan akal dan logika,
akankah aku sampai pada-Nya?

Akankah ruh-ku kembali menjumpai-Nya sebagaimana dari-Nya aku berasal?

Ah, Tuhan.. Engkau di mana?

Kuyakin Kau tidak di langit, tidak di surga seperti yang sering orang-orang kisahkan, tidak pula di Ka'bah meski mereka bilang Ka'bah adalah rumah Tuhan.

Tempat-Mu terlalu gaib, takkan sampai logikaku ke sana.


tentang syariat.
tentang hakikat.

tentang syariat yang hanya 'kulit'
tentang hakikat yang merupakan 'inti'

tentang keduanya yang tak bisa saling terlepas.

Aku butuh belajar.
berguru pada sanubariku sendiri.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

September Rain

Angin musim timur bulan September. Padanya, aku tinggal menunggu hujan reda. Lalu sembari menambahkan sesendok gula dalam cangkir tehku, sesekali kuintip dari balik jendela, berharap pelangi terpahat di sana. Hingga dengan itu aku dapat tidur lebih lelap dan berdoa agar besok matahari tak ingkar janji.

Angin musim timur bulan September. Jika saja hujan mau sedikit berkompromi, aku bisa duduk manis di tepian laut. Menunggui ratusan peri muncul dari tempat persembunyiannya, mengeluarkan serbuk-serbuk jingga dari tiap kepakan sayap mereka, menaburkannya dengan riang gembira hingga tercipta lukisan senja di kaki langit. Indah.. keindahan yang ingin kubagi pada siapa saja, untuk mereka yang mengutuki hidupnya, untuk mereka yang sibuk mengais sampah demi seribu-dua ribu, untuk mereka yang kelelahan memikul kotak sol sepatunya. Ingin kubisikkan lekat-lekat di telinga mereka, hidup ini terlalu indah..

Angin musim timur bulan september. Jika sedang suntuk, tak ada yang lebih membahagiakan selain memandangi hujan, mengamati anak-anak yang berlarian di halaman, berteriak kegirangan, tidak tahu karena alasan apa. Semakin deras hujan yang turun, semakin keras teriakan mereka. Mereka bahagia, tak peduli ibu-ibu mereka sedang kerepotan mengurusi jemuran. Anak-anak tak pernah kesulitan mendefinisikan kebahagiaan. Adalah hujan, salah satu bentuk kebahagiaan yang Tuhan turunkan untuk mereka yang berhati putih, untuk mereka yang tak pernah berpura-pura kuat ketika sedang sakit, untuk mereka yang tak pernah berpura-pura tegar ketika sedang bersedih. Mereka itulah anak-anak. Hanya ada dua ekspresi yang mereka punya. Tertawa jika bahagia, atau menangis jika sedih. Dan lagi-lagi, aku harus didera perasaan iri.

Hmm.. angin musim timur bulan september. Di sini sinar matahari tak pernah punya tempat. Dan kalaupun ia muncul, ia seperti kehilangan jati dirinya. Ia bukan lagi sosok yang arogan, garang, masa bodoh, tapi kini ia berubah jadi pemalu. Sungguh sepadan dengan mereka yang tengah dimabuk cinta. Tapi tak mengapa! Mungkin bulan september adalah bulannya matahari untuk ambil cuti. Jadi tak perlulah berkeluh-kesah, waktunya bagi kita untuk menarik selimut tebal, membungkus malam, membungkus penat, melupakan cerita sedih hari kemarin.

Angin musim timur bulan september. Tuhan seperti sengaja mendatangkannya untukku. Untukku yang didera rindu akan kampung halaman, pada sanak keluarga, pada lambaian nyiur yang berdiri rapi disetiap mata memandang, pada udara segar yang memenuhi paru-paru, pada jernih dan birunya lautku, pada sungai-sungai yang airnya digunakan untuk minum, mandi dan mencuci, pada megahnya gunung yang terlihat jelas dari tepi laut, pada cantiknya laut yang terlihat jelas dari atas gunung, pada ambonku, pada tumpah darah beta.

Terimakasih Tuhan, telah menyempatkanku untuk bersua kembali dengannya, negeri kecil yang menyimpan banyak cerita pilu tentang orang-orang pedalaman yang belum tersentuh peradaban, negeri kecil tempatku tumbuh dan merasakan cinta dari orang-orang yang mencintaiku. Negeri tempatku merangkak dari titik nol, negeri yang kutinggalkan dengan linangan tangis untuk menempuh setengah dari perjalanan mengenal diriku sendiri. Sungguh, aku masih sangat rindu. Semoga masih diberi kesempatan untuk bertemu lagi.

Angin musim timur bulan september, darinya aku belajar banyak tentang hidup. Bahwa hujan, pelangi, matahari, senja, dingin, sepi, awan-gemawan, bintang-gemintang, dedaunan yang gugur kemudian tertiup angin, rasa haru dan rindu, kesemuanya adalah satu paket kontemplasi yang mengharuskanku untuk tunduk pada kekuasaan Dzat yang darinya segala kehidupan berasal. Kini aku lebih dari mengerti bahwa meskipun hidup seringkali angkuh, tapi keanggunannya selalu menjadi candu. Dan aku mabuk, aku tergila-gila. Ya, ya, Tuhan selalu punya cara untuk membuatku bersyukur. Karenanya aku ingin hidup lebih lama..

Bolehkah kita berjumpa kembali di tahun-tahun mendatang,

Oh Angin musim timur bulan September..?

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

vrolijk

Ini kejadian sedih saat saya masih SD, ibu sakit (tidak tahu sakit apa) yang membuat saya menghampiri ibu dan ibu malah bertanya pada saya “kamu siapa?”. Aih, sedih sekali rasanya ibu bahkan tidak mengingat saya. Lalu demi itu ibu dirawat berhari-hari di rumah sakit, saya tetap tidak mengerti ibu sakit apa. Ibu seperti kehilangan ingatan tentang saya, tentang kakak, bahkan tentang adik saya yang masih bayi itu. Adik dititipkan ke rumah tante, saya dan kakak tetap di rumah bersama ayah. Saya sedih karena ibu tak pulang-pulang. Saya selalu menangis jika ibu tak ada di rumah.

Waktu SMP ibu dan ayah pergi ke Ternate menemani proses persalinan kakak sulung saya, menjenguk kelahiran cucu pertamanya. Sebulan lebih ibu tidak di rumah, waktu itu saya hendak mengikuti lomba pidato bahasa Inggris, sedih sekali rasanya tak ada ibu. Hampir setiap hari saya menangis diam-diam di kamar cuma karena kangen ibu. Benar-benar memalukan!

Di manapun ibu berada, ibu adalah tempat saya kembali dari perjalanan panjang saya, tempat di mana saya harus pulang dan membagi sedikit cerita padanya. tanpa ibu saya rasanya pincang, walaupun saya tahu saya tidak boleh terus-terusan seperti ini, saya tidak boleh terus-terusan ketergantungan pada ibu. Suatu saat, dengan sangat berat saya tahu ibu akan pergi dari sisi saya, membayangkannya saja dada saya serasa ingin meledak. 

Saya rindu hari-hari yang telah lewat bersamanya.. Duduk-duduk berdua mengintip bintang di teras rumah bersama ibu sembari makan kacang rebus dan menyanyikan lagu nasional bersama-sama. Suara ibu indah, setidaknya begitulah yang bisa saya tangkap lewat indera, membuat hati senang, membuat nyaman, membuat saya tahu kenapa Alya (ponakan saya) sangat sayang kepada ibu, selalu minta digendong oleh ibu, selalu tertidur pulas ketika ibu menyanyikannya satu-dua lagu. Suara ibu yang lembut adalah cerminan hati ibu, hati ibu baik, sangat baik. Itulah mengapa para tetangga sayang pada ibu, teman-teman saya selalu menanyakan tentang ibu, dan pembantu di rumah menangis memeluk ibu saat ia pamit pulang kampung sekaligus berhenti bekerja. Ibu lembut dan penyabar. Ibu selalu hadir untuk menyeimbangkan sifat ayah yang tegas dan keras. Ibu membuat segala sesuatu dalam keluarga kita berjalan dengan seimbang.

Terimakasih ya ibu sudah mengenalkan saya pada bahasa inggris saat saya masih sangat kanak-kanak, terimakasih ibu sudah membuatkan rumus-rumus matematika dan menempelnya di dinding supaya saya mudah mengingatnya, terimakasih karena ibu telah mengajarkan pada saya bahwa merayakan pesta ulang tahun tidak pernah ada dalam agama kami, terimakasih untuk tradisi minum teh di sore hari yang ibu ciptakan sehingga membuat kami sekeluarga selalu bergembira, terimakasih telah mengajari saya secara tidak langsung bagaimana cara bertahan dan setia kepada pasangan, terimakasih untuk segala cinta yang ibu tanamkan ke dalam hati kami dengan cara yang sangat sederhana. 

Saya bahagia ibu selalu menemani masa-masa saya beranjak dewasa. Dan hari-hari yang indah seperti itu takkan pernah bisa dibeli.


#Ibu, tetap nantikan saya di halaman, karena saya akan segera pulang..



  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

kukis

Masih tentang Ramadhan dan hiruk pikuknya..

Di Jakarta, makanan berbuka puasa gak sevariatif yang ada di Ambon.  Orang-orang Jawa dan Sumatera yang saya tahu, selalu berbuka puasa dengan nasi. Kami, orang Ambon tulen, jelas lah gak terbiasa dengan itu. Kami berbuka dengan kue-kue. Dan karena namanya ‘berbuka’, maka jadilah kue itu cuma makanan pembuka doank, karena nanti selepas isya/tarawih barulah kami masuk ke makanan inti: nasi.

Waktu saya berbuka puasa di kosan teman, mereka bilang “kok gak makan nasi?”. Saya tertawa saja. Butuh banyak paragraf untuk menjelaskan bahwa saya gak terbiasa makan nasi saat buka puasa. Berbuka bagi orang Jawa dan Sumatera mungkin sekaligus disebut juga dengan makan malam, tapi makan malam bagi orang Ambon saat bulan Ramadhan ya itu tadi, selepas isya/tarawih. Gak ada yang namanya makan nasi pas adzan maghrib berkumandang.

Sebenarnya ini semua cuma masalah budaya/kebiasaan saja. Tapi karena budaya inilah yang bikin saya rindu serindu-rindunya rindu. Di Ambon dengan mudah kita bisa menjumpai 44 macam kue untuk berbuka puasa, kue-kue itu berbaris panjang seperti kereta 100 gerbong, dan yang kita perlukan cuma dua hal: punya uang & kekuatan untuk memilih.

Oh ya, satu hal lagi yang terjadi di Ambon di saat-saat Ramadhan seperti ini adalah, radio-radio di Ambon dengan sangat kerennya membuat siaran “10 jenis makanan  buka puasa terlaris minggu ini” berdasarkan survey paling bodoh sekaligus paling kreatif yang entah dilakukan oleh siapa (oleh BPS kah?). Maka penyiar radio yang dengan agak najong menirukan gaya vije-vije MTV akan berceloteh riang gembira:

kue panakuk yang telah nangkring selama dua minggu di posisi kesembilan akhirnya pada minggu ini harus bertempur habis-habisan dengan  kue cara yang membuatnya terkulai lemas di posisi nomor sepuluh pada akhirnya.
Pendatang baru  dengan wajah manja, pastel, berhasil menduduki posisi delapan, menggeser kue lapis kukus yang nampaknya sudah mulai terlihat kurang menarik.
Kolak pisang nampaknya minggu ini harus meregang nyawa dengan keluar dari jajaran sepuluh makanan terlaris.
Bagaimana dengan pisang asar? Oh nampaknya pisang asar tidak pernah kehilangan penggemarnya. Terbukti ia kini telah duduk manis di kursi nomor 4 setelah minggu lalu masih malu-malu di kursi nomor 5nya.
Porci alias poporces yang selalu tampil dengan dandanan sederhana minggu ini harus pasrah menjadi nomor 6 ditendang oleh risoles yang tampak makin menggoda dan agresif.
Bla bla bla bla
Bli bli bli bli
Saya rindu sekali suasana Ramadhan di kampung halaman..

Rindu kue-kue Ambon yang enak dan rasanya kok beda sekali dengan kue-kue di sini.. apakah karena style-nya kue Ambon ngikutin style kue-kue Belanda ya? Apakah  karena saya terlalu berlebihan? Apakah kini Julia Perez pake jilbab? Entahlah..

Saya cuma rindu.

Huiks..

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

HONING

Dan Tuhanmu mengilhamkan kepada lebah, "buatlah sarang di gunung-gunung, di pohon-pohon kayu, dan di tempat-tempat yang dibikin manusia, kemudian makanlah dari segala (macam) buah-buahan lalu tempuhlah jalan Tuhanmu yang telah dimudahkan (bagimu)". Dari perut lebah itu keluar minuman (madu) yang bermacam-macam warnanya, di dalamnya terdapat obat yang menyembuhkan bagi manusia. Sungguh, pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda (kebesaran Allah) bagi orang yang berpikir.
(Q.S An-nahl: 68-69)


Hmm.. ternyata masalah madu udah diterangkan sama Allah SWT di dalam Al-Qur'an, sodarah-sodarah.. kenapa? karena banyak sekali khasiat dari madu yang bisa kita dapatkan.. madu itu umm... madu itu.. madu itu KEREEEEENN sekali ih ih ih..

FYI saya minum madu setiap hari loh.. selain untuk menjaga daya tahan tubuh, sebenarnya tujuan lainnya adalah supaya saya tetap kelihatan seksi walaupun udah ngelahirin 3 orang anak. soalnya dari hasil sercing sana sercing sini katanya nih, madu baik untuk kecantikan bodi. hihi..

#trus apa poin dari tulisan norak lu ini, phy??#

iya, iya.. pokonya mule sekarang, jadikanlah madu sebagai solusi masalah hidup anda..

sakit tenggorokan?
minum madu!

batuk-pilek?
minum madu!
jerawatan?
olesin madu!

luka bakar?
olesin madu!

sariawan?
olesin madu!

pengen punya perut rata macam saya?
minum madu!

diputusin pacar?
minum madu!

ketek item?
olesin madu!

gak pengen terus-terusan jadi jomblo?
minum madu!

pengen cepet-cepet kawin?
godain abang-abang yang jualan madu!

abis nikah enaknya ngapain?
bulan madu!

pengen hidup bahagia selamanya?
jangan mau dimadu!!


Wassalam

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

ontevreden

Romantis itu adalah ketika seorang cowo tiba2 jam stengah 4 pagi ngetok2 pager kosan kamu cuma buat ngasih makanan sahur kesukaan kamu tanpa pernah smsin kamu sebelumnya..

hmmm.. kadang saya tidak butuh kata-kata sayang yang mesra, juga ucapan "selamat pagi" atau "selamat tidur" secara rutin untuk bikin saya yakin seberapa besar perasaan seseorang kepada saya. saya tidak butuh hal-hal standar semacam itu. Yang saya perlukan adalah seberapa sering dia tahu bahwa saya tengah bersedih, lalu tanpa-harus-meminjamkan-bahunya, dengan kata-katanya yang menenangkan saja dia mampu membuat saya menjadi kuat kembali..
kadang-kadang.. ya kadang-kadang,, romantis itu mahal sekali harganya..
kamu justru menemukannya dalam diri orang lain, orang lain yang sibuk marah-marah begitu tahu ada yang menyakiti kamu, orang lain yang pintar sekali membuat kamu tertawa saat kamu dirundung kesedihan, orang lain yang terus menyemangati kamu meski dari kejauhan, orang lain yang tak pernah sungkan meneleponmu hanya ketika kamu bilang kamu sedang butuh teman bercerita,, iya, semua dari orang lain,, bukan dari seseorang yang sangat kamu harapkan.
 
 
*nelen kamper, pingsan*

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

zaterdag


Saya selalu meminta, tanpa pernah belajar berkompromi dengan apa yang sudah saya berikan untuk Tuhan, apa yang Tuhan inginkan dari saya..
Betapa tidak tahu dirinya saya..
Saya kotor, bergelimang dosa,
Iman saya naik-turun, seperti anak kecil yang sulit membedakan kiri dan kanan..
Otak saya terlampau kosong, bahkan untuk sekedar memahami tanda-tanda kebesaran yang telah Tuhan bentangkan di sepanjang bibir kehidupan
Bukan karena saya buta, tapi karena saya terlalu lama tidur,
Terlebih karena saya terlalu malas untuk belajar,
Menggali ilmu yang terserak di seisi langitNya, dari bujur ke bujur bumi milikNya, dari ujung ke ujung laut ciptaanNya..
Saya hina, tapi dengan semua kehinaan yang saya punya saya masih saja tak tahu diri untuk meminta dan meminta lagi..
Ibadah-ibadah saya, tutur kata, janji-janji, berapa banyak yang sudah saya lalaikan?

Tuhan..
Jika seandainya kematian adalah akhir, jika selepas manusia mati maka yang ada hanyalah titik nol yang gelap dan kosong..
Jika seandainya tidak ada surga atau neraka, tidak ada hari pembalasan dan hari dimana manusia akan dibangkitkan..
Saya ingin tetap mengabdi padaMu di dunia ini dengan sepenuh rasa cinta saya, seperti kerelaan hati seorang kekasih untuk melakukan apa saja demi menyenangkan hati yang dikasihinya..
Seperti itulah ingin saya..
Tuhan.. saya tahu saya hanyalah pendosa.. saya tahu seringnya doa-doa saya tak lebih dari untaian kalimat-kalimat basi penuh harapan keduniawian..
Tapi dengan keimanan saya yang tipis ini, saya hanya meyakini bahwa satu-satunya tempat saya bersandar dan menggantungkan harap, hanyalah ke hadiratMu yang Maha Rahiim..

Jika engkau belum mempunyai ilmu, hanyalah prasangka, maka milikilah prasangka yang baik tentang Tuhan.
Begitulah caranya!

Jika engkau hanya mampu merangkak, maka merangkaklah kepadaNya!
Jika engkau belum mampu berdoa dengan khusyuk, maka tetaplah persembahkan doamu yang kering, munafik dan tanpa keyakinan.
Karena Tuhan, dengan rahmatNya akan tetap menerima mata uang palsumu!

Jika engkau masih mempunyai seratus keraguan mengenai Tuhan,
maka kurangilah menjadi sembilan puluh sembilan saja.
Begitulah caranya!

Wahai pejalan!
Biarpun telah seratus kali engkau ingkar janji, datanglah, dan datanglah lagi! Karena Tuhan telah berfirman:
“Ketika engkau melambung ke angkasa ataupun terpuruk ke dalam jurang, ingatlah kepadaKu, karena Akulah jalan itu.”
(jalaluddin Rumi)

#dari seorang hamba yang sotoy dan lagi melo karena buka puasa di tempat fotokopian#

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

even-oneven

Saya pernah mendengar bahwa Tuhan menyukai yang ganjil.
Jika iya, izinkan saya untuk memilih sesuatu yang berbeda dari yang Tuhan sukai,
karena saya hanya ingin menggenapimu..

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Warna-warni Ramadhan

selamat datang bulan suci Ramadhan^^

Ramadhan pertama yang saya lewatkan di perantauan.

aih, jadi kangen suasana rumah..

saya kangen disuruh mama buat beli seabreg-abrek susu, terigu, gula, syrup ABC, a-i-u..

kangen hiruk pikuk tetangga dari ujung ke ujung sibuk mengecat rumah dan pagar-pagar mereka.

kangen disuruh mama mengganti seprei-seprei, gorden dan taplak meja.

kangen taraweh bersama teman-teman dari masjid yang ini ke masjid yang itu.

kangen duduk di meja makan bersama semua anggota keluarga menunggu adzan maghrib bersahut-sahutan.

kangen telat sahur bareng-bareng sama kakak, makan terburu-buru kaya orang kesetanan.

kangen ditanyain sama mama, "mo dimasakin apa hari ini?"

kangen sorak sorai, "es pisang ijo ajaaa", "pisang epe ajaaa", "pisang asaaaaar"..

lalu sambil ngakak mama bilang, "pisang coe aja deeeehh"

kangen dikatain monyet sama mama waktu saya bilang, "pokonya selama 30 hari berturut-turut saya cuma pengen makan pisang goreng keju"

kangen bikin es buah setiap sore, lalu untuk mama dan papa es buahnya minus es alias gak boleh dingin!

kangen papa yang bilang, "ternyata avocado itu enak yaa", sambil cengengesan karena ternyata selama berpuluh tahun papa gak pernah makan avocad gara-gara "jijik" sama wujudnya. haha

kangen ramadhan, kangen setumpuk gelas-gelas kotor yang menanti saya di wastafel untuk segera dicuci selepas shalat maghrib.

...
...
...

dan ramadhan kali ini, terasa berbeda dari ramadhan yang sudah-sudah.. tak mengapa, yang paling penting adalah bagaimana saya menyikapinya. mau meratapi atau mensyukuri apa yang sudah digariskan..

Alhamdulillah ya Rabb.. terima kasih Engkau telah mempertemukan saya kembali dengan bulan penuh kemuliaan ini. semoga Engkau berkenan menerima setiap ibadah saya, dan semoga setiap kesalahan saya yang telah lalu mendapat pengampunan dari-Mu..

aamiin..

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Kalosorisma Hyemali

Semalam, sudah larut ketika saya membaca buku Reporter and the City lalu mengkhatamkannya. Menarik menilik kehidupan di balik layar kamera, tentang perjuangan seorang jurnalis demi mendapatkan sekecil apapun informasi untuk disebarkan kepada khalayak ramai. Entah itu bencana alam, perang, penyakit, juga masalah-masalah sosial dan politik lainnya. Saya cuma punya satu kata untuk mereka: KEREN.

Pagi ini saya terbangun dengan perasaan yang sesak. Sesak karena bayang-bayang reporter masih bercokol hebat dalam pikiran saya. Sesak yang pada akhirnya menimbulkan rasa iri. Tuhan, apakah saya boleh iri pada mereka yang tercapai cita-citanya? Mereka yang sejak kecil melantunkan impian-impiannya untuk menjadi reporter, presenter berita, lalu Engkau memeluk mimpi-mimpi mereka dan mengejawantahkannya menjadi suatu bentuk kenyataan yang manis? Tuhan, apa pantas saya iri? Bukankah dulu saya juga punya mimpi yang sama? Saya tak minta banyak kan, Tuhan? Saya hanya minta supaya kelak di masa depan saya akan mendapati diri saya menjadi seorang reporter. Mengunjungi tempat-tempat yang jauh, melaporkan berbagai peristiwa-peristiwa penting. Bukankah itu mulia, Tuhan? Tapi rupanya mimpi saya tak direngkuh oleh-Mu. Apakah karena saya terlalu banyak dosa? Ah, Tuhan.. andai saya bisa menelusuri apa yang Kau rencanakan untuk saya. Tapi Engkau terlalu misterius. Ah, maafkan saya, Tuhan, saya tak pernah bermaksud menyalahkan Engkau yang sebenarnya sudah teramat baik pada saya.

Terkadang di dalam sendiri saya, sebenarnya saya masih kebingungan memaknai diri saya sendiri. Saya siapa? Untuk apa saya terlahir? Saya merasa seperti tidak punya tempat. Maafkan saya, Tuhan.. saya seperti orang yang tidak bersyukur. Saya tahu saya beruntung karena masa depan gilang-gemilang telah menunggu saya di ujung jalan, pekerjaan sebagai seorang PNS telah memanggil-manggil saya. Tapi jujur, tak ada perasaan gembira yang hinggap di hati saya atas semua itu selain karena saya telah mampu memenuhi harapan ibu saya. Itu saja. Iya, saya ingin jadi reporter, dan ibu ingin saya jadi PNS. Sesuatu yang sama sekali bukan passion saya. Tapi saya bisa apa? Tuhan, mohon kiranya Engkau jangan menatap saya saat ini, saya malu karena demi mengetikkan semua ini saja tangis saya harus terburai. Saya malu pada-Mu, Tuhan, karena saya terlalu cengeng.

Tuhan, apakah saya masih pantas untuk punya cita-cita? Karena rasanya segala hal sudah tidak mungkin bagi saya. Saya kuliah statistik, tapi sebenarnya saya tidak benar-benar memahami apa yang kini tengah saya kerjakan. Saya tidak mengerti apa-apa tentang statistik. Tidak ada kontribusi apa-apa yang bisa saya berikan kepada bangsa ini atas bidang keilmuan yang kini saya geluti. Saya merasa tak berguna karena tak bisa memberikan pada Negara apa yang Negara telah berikan pada saya. Melihat diri saya dari sisi manapun, saya hanyalah manusia yang menyedihkan. Tak lebih.

Di usia saya yang kedua puluh ini, saya merasa sudah banyak waktu yang terbuang. Terbuang karena hidup saya sebenarnya telah termakan oleh kesia-siaan. Mimpi-mimpi saya tak lebih dari mimpi kosong. Jauh di dalam hati kecil saya, saya masih ingin menjadi reporter. Tapi mungkin menjadi reporter adalah satu bentuk keegoisan saya. Egois karena saya pasti akan menyakiti hati ibu saya yang menginginkan saya menjadi PNS. Ya, PNS seperti sebuah kutukan dalam keluarga saya. Kode-kode PNS telah mengalir dalam genetik kami, menjelma dalam bentuk rantai-rantai DNA yang kompleks. Maka dulu ketika murid-murid SD ditanyakan perihal cita-cita mereka satu per satu, saya patutnya menjawab bahwa cita-cita saya adalah apa yang ibu cita-citakan terhadap diri saya. Seharusnya seperti itu saja. Cukup begitu. Saya tak boleh memilih!

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS